Breaking News
Loading...

Search This Blog

Loading...

Recent Post

Tuesday, October 1, 2013
no image

Arti Doa Bapa Kami

Bapa kami yang ada di sorga… hmm… terus apa lagi yeeh… aduh gw lupa lagi… Bapa kami yang ada di sorga… sekiranya Bapa langsung aja baca kelanjutannya di alkitab yah, sebab sesungguhnya hambaMu ini lupa kelanjutannya, maklumlah hamba adalah manusia yang tak sempurna… amin. Eh, ngga bisa gitu dwong! Kita ngga boleh jadiin doa Bapa kami cuma sebagai hafalan doang loh! Kita harus tau artian semua isi doa Bapa kami biar kalo kita mengucapkan doa Bapa kami, Tuhan ngga nyindir kita : “lagi praktek ayat hafalan nih mas…!”.

Kita bahas santai tapi ngerti yah. Temen-temen boleh buka Matius 6:9-13.
Pertama : “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu,”. Kalimat ini merupakan sebuah pujian kepada Bapa. Kekudusan nama Bapa ngga ditentukan oleh pengakuan kita, tapi biarlah kita turut menyerukan kekudusan namaNya dan mengundangNya hadir di dalam hidup kita.

Kedua : “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”. Kalimat ini merupakan permohonan agar kehendakNya terjadi di sini (dalam kita) seperti di sorga. Maksudnya? Maksudnya bgini, di surga kan yang ada hanya sukacita & sukacita, dan biarlah sukacita juga selalu ada di dalam kita. Bgimana bisa, keluarga gw berantem mlulu, temen gw ngecewain mlulu, dan anjing pudel gw ngegong-gong mlulu, gimana gw bisa sukacita!

Begini loh… sukacita bukan ditentukan oleh keadaan tapi oleh suasanan hati kita yang selalu bersyukur. Buktinya, banyak orang kaya yang sakit-sakitan karena stress mikirin hartanya yang masiiiih aja kurang, manusia kan ngga pernah puas. So, masalah boleh ada, rintangan boleh ada, tapi kita selalu tetap bersukacita dan tetap tangguh dalamNya, ngga stress. Maka, itulah yang disebut suasana surga di tengah dunia yang nyebelin ini, asyik kan!

Ketiga : “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Kalimat ini adalah sebuah permintaan agar kebutuhan kita dicukupkanNya. Kebutuhan di sini bukan hanya makanan aja, tapi juga pakainan, udara, dan kebutuhan yang lainnya. Inget,,, kebutuhan kita..! bukan keinginan kita. Kita minta dengan cukup, bukan kurang atau lebih. Karena akibatnya bisa fatal kalo ngga demikian sperti tertulis di Amsal 30: 8-9 (baca deh, ayatnya ngasah otak banget!).

Keempat : “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Kalimat ini tegas banget bilang kalo dosa kita mau diampuni, kita juga harus membereskan dendam kita sama orang lain (Matius 6:14-15). Makanya sering kali doa kita ngga nyampe ke Tuhan karena kita masih menyimpan dendam sama orang lain. Hendaklah amarahmu padam sebelum matahari terbenam. Berapa kali kita harus mengampuni dalam sehari? 7X7X7 kali.

Kelima : ”dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Maksud kalimat ini bukan biar kita ngga punya masalah. Terjemahan aslinya kira-kira bilang begini : “dan jangan biarkan jalan hidup kami menuju jalan yang menyimpang dari jalan-Mu”. Jadi, biar Tuhan menuntun jalan kita agar kita ngga disesatkan iblis dan pada akhirnya binasa. Guys, masalah datang bukan dari Tuhan, penyakit juga bukan datang dariNya, tetapi Tuhan hanya “mengijinkan” itu semua terjadi untuk membentuk karakter kita. Karena kita adalah anak Raja surga yang tangguh dan berharga.

Keenam : “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”. Kalimat ini merupakan pujian kepadaNya. So, di awali dengan pujian, dan diakhiri dengan pujian juga.

Sahabat FOS, jadikan doa Bapa kami sebagai contoh dasar doa kita. Doa Bapa kami memiliki beberapa unsur, yaitu: diawali dengan pujian, ada pengundangan Tuhan hadir dalam hidup kita, ada permintaan, ada pengampunan dosa, dan diakhiri pula dengan pujian kepadaNya. Doa Bapa kami sebaiknya diucapkan setiap hari, tepatnya ketika kita mengawali aktivitas kita.
Nah, skarang ngga bingung lagi kan


Hothlas_salah satu anakNya
Monday, July 15, 2013
no image

Sesederhana, Bagaimana Jika..

Bagaimana jika nanti, pikiranku menjadi terlalu rumit?
Bagaimana jika, aku tidak lagi merasa tentang-Mu di hatiku?
Bagaimana jika hari itu tiba, ketika hidupku penuh dikuasai oleh tatanan logika..

Ingatkan aku tentang kasih-Mu yang berbicara dengan begitu sederhana..
Ingatkan aku tentang tetesan air mata yang hangat, tentang bagaimana pertolongan-Mu yang begitu lekat dan tentang indah-Mu yang selalu kurasakan dekat…

Namun, Jika pun nanti kumelangkah pada batas timur yang terjauh, kembalikanku pada-Mu..
Jika kuterhilang dan tak mampu membaca arah pulang, temukanku…

Walau ratus atau ribu kali..
Walau terselubung riuh yang penuh..
Walau kelam atau pekat
Walau tak ada lagi janji yang kuingat…

Lagi,

Buat aku mendengar-Mu,
Buat aku mengembalikan arahku menuju-Mu..

Sesederhana semula..



Ditulis oleh @lunniey

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Tuesday, April 9, 2013
Sepatu

Sepatu

Sudah satu minggu rumah begitu sepi. Tak ada suara orang berbincang, tak ada suara televisi atau radio dinyalakan. Sepanjang waktu, dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, hingga pagi lagi, yang terasa hanyalah dingin. Dan semakin dingin. Tak ada lagi kehangatan barang seteguk. Wangi aroma racikan bumbu yang dulu selalu tercium dari dapur di kala pagi kini telah sirna. Kata-kata rayuan untuk sarapan, apalagi.

Senandung lagu-lagu cinta disela gemericik air senyap sudah. Tiada lagi terdengar riuhnya canda tawa. Semua
lenyap tertelan derasnya ombak kehidupan. Yang tinggal hanyalah derit pintu, mempersilakan nyonya rumah untuk keluar di kala pagi. Kemudian diam, menanti waktu hingga sang nyonya kembali di kala hari telah larut.

Rumah itu tak lagi seperti rumah pada umumnya. Bahkan penampilannya pun layaknya rumah tak berpenghuni. Debu tebal dimana-mana, pohon perindang di depan rumah yang tak terawat mulai mengering. Daunnya berserakan memenuhi halaman. Mungkin si pemilik rumah terlalu sibuk, tak punya waktu untuk urusan yang demikian.

Hampir bersamaan dengan kepergian Dina untuk KKN di Blora, kira-kira lima pekan yang lalu, Wening semakin giat memberikan ceramah kepada Sabar. Kepergian putri semata wayang mereka laksana sebuah kesempatan emas bagi Wening. Setiap sore setelah pulang kerja, ada saja tema untuk mengkhotbahi suaminya yang ia sebut sebagai pria tak bertanggung jawab itu. Semangatnya begitu menggebu-gebu. Kadang ia juga begitu ringan mengangkat telunjuknya untuk menuding muka Sabar di sela rentetan kalimat yang amat pedas itu.

Pagi ini di kantor, Wening terlihat begitu serius. Tangannya memegang sebuah benda. Matanya begitu teliti mengamat-amati benda itu. Benda yang sangat istimewa, salah satu pemberian Sabar dikala mereka menikah dulu. Benda yang sempat ia simpan selama dua puluh tiga tahun. Benda itu masih utuh, masih mulus. Warnanya pun masih sama seperti dulu di saat ia membukanya dari dalam kotak bingkisan berwarna merah jambu. Benda yang selalu rela diinjak-injak untuk melindungi tuannya. Benda yang sarat akan makna: sepatu.

Tadi, tergesa-gesa melangkah karena dipanggil atasan, Wening sempat hampir jatuh karena sepatu dengan hak setinggi lima belas centi yang dipakainya itu. Spontan, ia duduk di kursinya, mengusap-usap kakinya yang terkilir dengan balsam dan melepas sepatu itu. Ia taruh begitu saja sepatu itu di atas meja. Tiba-tiba bak kaset film yang diputar ulang, dalam otaknya mengalir deras ingatan tentang pesan yang tersimpan di balik sepatu dengan warna favoritnya: warna ungu.

Begitu jelas tergambar di dalam ingatan, bagaimana dulu ketika ia duduk bersanding bersama Sabar, untuk mengucapkan janji setia untuk saling menerima di dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, hingga maut memisah raga.  Saat itu Wening begitu lantang mengucap janji sucinya.
Khotbah pendeta yang kala itu mengangkat tema Sepatu, seakan didengarnya kembali. Bergema begitu keras di telinganya. Dulu, ia mendapat bekal bagaimana ia harus bisa menjadi Istri: Ingat Suami Terus setiap haRI. Belum lagi bagaimana makna yang terkandung di dalam Sepatu. Pendeta mengatakan, pasangan suami-istri hendaklah seperti sepatu, yang tak pernah sama persis bentuknya, tetapi serasi. Tak pernah berganti posisi, namun saling melengkapi. Meski tak pernah berjalan bersama, tetapi selalu beriringan. Meski geraknya berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama. Selalu setara, sederajat, sama tingginya, tidak tinggi sebelah. Dan tak akan memiliki arti lagi jika pasangannya hilang.

Wening mendesah. Di tariknya nafas dalam-dalam. Air matanya tak tertahan. Jawaban “Ya, dengan segenap hati” yang begitu tegas ia sampaikan di depan altar dulu, kini terasa menyiksa batinnya. Sejak Sabar di PHK dua tahun lalu, Wening kehilangan keseimbangan. Ia merasa dirinyalah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.
Mungkin ia merasa jenuh, tertekan. Mungkin juga galau, atau apalah namanya.

Dulu gajinya selalu utuh 100% masuk ke dalam rekening pribadinya. Biaya hidup sehari-hari selalu bersumber dari penghasilan Sabar. Ia tinggal acungkan saja jarinya untuk menunjuk apa yang ia inginkan. Kini setelah Sabar di PHK, Sabar seperti menghambur-hamburkan uang. Usahanya untuk berwiraswasta selalu merugi. Dari bertani jamur hingga membuka usaha laundry, belum pernah berhasil. Mungkin karena ketatnya persaingan, atau mungkin juga belum rejeki. Yang jelas, Sabar tak pernah menganggapnya sebagai takdir. Terakhir, Sabar mencoba beternak itik. Sayang usahanya kali ini pun tak begitu menjanjikan, meski masih terus ia perjuangkan. Malang, pekerjaan ini bagi Wening dianggap begitu jorok. Membuatnya turun prestise di kampus. Bagaimana mungkin seorang pembantu rektor bersuamikan peternak itik? Apa kata mahasiswanya jika mereka tahu!

Tiga bulan berlalu, keadaan belum membaik. Semakin parah bahkan. Sore itu, tak disangka Pendeta bertandang kerumahnya. Menanyakan kabar, yang dijawab dengan begitu terbuka oleh Wening. Ia sampaikan segala isi hatinya.
“Sudah hampir dua puluh lima tahun saya memendam rasa ini!”
“Apakah Ibu sudah berusaha memaafkan kesalahan suami Ibu?”
“Ya, saya memaafkan. Dengan tulus saya maafkan. Tetapi saya sudah tidak tahan. Sudah hampir dua puluh lima tahun Pak!”
Pendeta itu dibuatnya bingung. Tak mengerti maksud kata-kata Wening. Bagaimana ia bisa mengatakan kesalahan Sabar telah ia maafkan jika ia memendam kepahitan itu? Bagaimana ia bisa mengatakan telah memaafkan tetapi tak pernah melupakan kesalahan-kesalahan Sabar yang tampak sepele? Kata-kata “hampir dua puluh lima tahun” selalu ia bawa. Apakah sepanjang kehidupan rumah tangganya ia tak pernah mencintai suaminya? Tak pernah merasa bahagia? Atau mungkin hanya karena ia kurang bersyukur?
Seperti kentang yang terus ditimbun ke dalam karung. Setiap Sabar melakukan sesuatu yang dianggap salah, Wening menambahkannya ke dalam daftar timbunan kesalahan Sabar. Yang pada akhirnya membusuk, berbau dan menjadi beban berat bagi dirinya sendiri.
Suasana menjadi beku. Kaku. Semua diam. Sesekali Sabar melirik istrinya. Wening masih terlihat garang, merah membara.
“Dina belum pulang?” Pendeta mengalihkan pembicaraan, mencairkan kebekuan.
“Wah...pulang malam itu biasa Pak, bagi Dina. Bahkan kadang sering tidak pulang.” Papar Sabar terang-terangan.

Ya, sejak Dina mencium aroma konflik antara ayah dan ibunya, ia sering menjadikan skripsinya sebagai alasan untuk pulang malam, bahkan tidak pulang ke rumah. Sebenarnya Ia merasa tersiksa dengan sikap ibunya yang terus-menerus menyulut bara di rumah itu. Maka dari itu ia lebih memilih untuk menyingkir. Ia kini juga telah berubah. Pembawaannya sedingin salju. Penampilannya lusuh, tak lagi rapi dan ceria seperti dulu.

Waktu terus bergulir. Matahari yang setia menjemput pagi tak mampu memberikan asa baru yang penuh harapan demi datangnya kehangatan cinta. Sabar harus semakin bertambah sabar karena kini Wening tak mengijinkannya tidur di dalam rumah. Teras rumah adalah pilihan kedua setelah dinginnya tempat jemuran di atas rumah tak sanggup ia taklukkan.

Tak mampu lagi ia sembunyikan ketidakharmonisan rumah tangganya di depan tetangga, yang curiga dengan tingkahnya.
“Belum tidur Pak?” tanya Badrun yang kebetulan melintas pada suatu malam.
“Belum, cari angin.”
Siapa percaya dengan omong kosong Sabar? Dinginnya malam menusuk tulang ia kata cari angin?
Sebenarnya Wening telah beberapa kali mengusir Sabar. Tetapi Sabar tak bergeming. Ia tak mau meruntuhkan rumah tangganya begitu saja. Di dalam benaknya, ia berharap agar suatu saat bisa kembali rukun dengan istrinya. Walau mungkin lebih tepatnya ia masih sabar menunggu sampai istrinya mereda. Meskipun dirinya tak pernah tahu entah kapan itu bisa terwujud.

“Apa yang kau tunggu? Angkat kaki dari rumah ini atau aku tusukkan juga pisau ini ke tubuhku!” ancam Wening suatu ketika

Kejadian itu semakin memperkeruh suasana. Hampir satu minggu Dina tak pulang. Apa yang telah ia saksikan di rumahnya sendiri terasa lebih mengerikan dari film horor yang pernah ia tonton di sepanjang hidupnya.
“Apa yang harus saya perbuat Pak? Saya tidak mau keluarga saya hancur hanya karena tingkah istri saya. Apakah saya salah jika memiliki usaha ternak itik? Apakah itu terlalu menjijikkan? Jorok? Hina? Selama ini saya juga berusaha menggantikan tugas istri saya mengatur rumah tangga. Mungkin memang sedikit aneh karena tugas kami seperti tertukar. Tetapi lihat sekarang! Sejak saya tak boleh masuk ke dalam rumah, bahkan tak boleh menyentuh perabotan di dalam rumah. Rumah tak lagi terurus, cucian menumpuk, debu dimana-mana, tak layak tempat tinggal itu di sebut sebagai rumah. Bahkan yang paling parah, sekarang anak kami satu-satunya, Dina, tak lagi tinggal bersama kami, entah dimana dia. Saya coba menghubungi nomor HPnya, saya cari dia ke rumah teman-temannya, saya tunggu dia di depan kampusnya, tetapi hasilnya nihil. Apa yang mesti saya perbuat Pak? Pasrah saya, pasrah...” Sabar mencurahkan isi hatinya kepada Pendeta.

“Tetaplah mengasihi dengan sabar, dan tetaplah berdoa” hanya itu pesan Pendeta. Singkat, tetapi tak mudah. Sabar diam, dalam hati ia berpikir, apa alasan orang tuanya dulu memberinya nama Sabar? Apakah memang untuk menanggung beban berat seperti yang ia terima sekarang?

Memaafkan dan melupakan setiap kesalahan yang dilakukan Wening, seakan harus menjadi menu wajib Sabar setiap hari. Bertemu tetapi tak ada senyuman, tatapan kasih, apalagi sapaan. Kadang Sabar merasa sangat disepelekan, direndahkan. Pepatah 'tak ada uang abang dibuang' adalah ungkapan yang sangat cocok untuk disandangnya sebagai gelar.

Sore hari, Wening pulang lebih awal dari biasanya. Sesuatu yang sangat tidak lazim. Apalagi ia terlihat begitu bersemangat untuk menemui lelaki lima puluh tahun yang masih sah sebagai suaminya itu. Wening menyapa Sabar dengan nada yang begitu lembut, dengan senyum simpul dibibir merahnya. Tanpa amarah. Akh... mungkinkah tirai mulai terbuka???

Mungkinkah sepatu pemberian Sabar berhasil mengingatkan Wening akan janji sucinya terhadap pernikahan yang telah ia sepakati tanpa paksaan di kala itu? Apakah Wening akan menggenapi pesan tersirat dari sepatu? Apakah Wening telah meruntuhkan keegoisannya? Atau mungkin ia telah menyadari bagaimana seharusnya ia menerima Sabar apapun dan bagaimanapun keadaannya? Bukankah ia masih sudi mengenakan sepatu pemberian Sabar itu?

Dengan menahan derai air mata Wening menghampiri Sabar dan berlutut didepannya. “Maafkan aku Mas, aku begitu egois. Kebersamaan kita selama ini tak kuanggap. Pengorbanan dan cintamu selama ini aku abaikan. Aku terlalu sibuk mengasihani diriku sendiri, sampai aku lupa segalanya,” aku Wening penuh penyesalan. Ia semakin tertunduk dan semakin membungkuk. Namun belum sampai ia mencium kaki suaminya, Sabar telah lebih dulu menarik bahu Wening, mengajaknya berdiri dan merapatkannya dalam dekapan. “Disinilah tempatmu, bukan diujung kaki. Karena kamu adalah tulang rusukku, pelindungku,” bisik Sabar diakhiri dengan kecupan di kening Wening. Wening semakin terisak. Ia dekap erat tubuh Sabar sambil membisikkan: “Terima kasih untuk sepatu itu, sepatu itulah yang telah menyadarkanku Mas. Engkau memang begitu sayang padaku. Hanya saja aku yang selama ini tak mempedulikanmu...” “Sstttt... sudah!” Sabar menghentikan Wening. “Yang penting sekarang kita memulai hidup baru dan mengisi hari-hari kita dengan cinta.” “Dan aku mau memperbaharui janji kita supaya kita bisa mewujudkan janji kita untuk sepatu,” sahut Wening sambil menahan isak tangis. “Sejalan Sampai Tua,” ucap Sabar dan Wening bersamaan. Dari kejauhan Dina melihat ayah dan ibunya yang tengah berpelukan. Ia mendekat, namun tetap berusaha agar tak terlihat oleh Sabar dan Wening. Jantungnya berdegup kencang. Matanya basah. Ia berbisik lirih: “Terima kasih, Tuhan. Engkau baik!”


Ditulis Oleh Endang Lestari

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Wednesday, April 3, 2013
no image

Duta

Aku berjalan dalam kebingungan karena keadaan di sekitarku begitu berbeda dengan keadaan di Negaraku. Di sinisaling mengumpat, mencaci maki dengan kata-kata cabul begitu normal, bahkan mereka dengan sukacita melakukannya. Padahal jika di Negaraku, orang yang berani melakukan itu semua apalagi terang-terangan di pinggir jalan sepertiitu, pastilah akan langsung ditangkap dan dipenjara.

“Hei, apa kamu lihat-lihat! Mau dihajar?! Heh? Hahahha. Dasar orang gila!”

Aku diam saja mendapat hardikan dari salah satu di antara mereka dan saat mereka mulai mentertawakanku lagi,aku memilih untuk meneruskan perjalananku. Ya, aku harus segera sampai ketempat tujuanku agar kebingungan ini segera terselesaikan. Aku membelokkan kakiku ke arah jalan berbatu yang menuju hutan lebat. Keheningan hutan begitunyaman di telingaku, setelah berhari-hari aku mendengarkan hiruk pikuk orang-orang yang mengajukan protes di jalan-jalan besar perkotaan dengan suara-suara protes mereka yang memekakkan telinga. Entahlah apa yang mereka protes. Karena di Negaraku tidak pernah ada segerombolan orang yang berteriak dijalanan kota seperti itu. Istilah-istilah yang mereka pakai pun aku tidak mengerti.

Suara alam terdengar ketika kakiku mulai memasuki sejuknya hutan yang mulai melantunkan irama kedamaian.Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan kedamaian dan kesejukan seperti ini. Sudah sangat lama, entah sejak kapan, yang pasti hidupku mulai dihiasi dengan cerita-cerita seronok, bahkan tempat tinggalku berada di antara orang-orang yang memiliki kebiasaan minum anggur hingga mabuk dan mulaiberteriak-teriak melantur di tengah malam. Sering kali ketika hampir pagi aku dibangunkan dengan suara – suara perkelahian akibat kalah judi, kalah taruhan atau rebutan pelacur. Aku heran darimana asal permainan itu? Sungguh permainanyang dapat dengan sangat mudah membuat orang berkelahi bahkan kehilangan nyawanya. Ah, aku harus segera menuju bukit di belakang hutan ini sebelum malam tiba.

Aku mulai merangkak menaiki bukit. Kembali kurenungkan awal mula penugasanku ke negara ini. Waktu itu aku tidak berpikir akan seberat ini melakukan tugas sebagai Duta dari Negaraku, karena ketika kubaca Surat Keputusan penugasanku dan kubaca dengan teliti daftar tugas yang harus kukerjakan, tidak ada pekerjaan yang berat dan sulit.Tugas-tugas itu sudah sangat biasa dilakukan di Negaraku, karena sudah menjadi budaya masyarakat di Negaraku. Waktu itu aku berpikir, "sungguh aneh daftar tugas ini, bukankah semua itu hal yang biasa? Semua aturan yang sudah menyatu dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sini? Hahaha, rupanya tugas Duta negara itu sangat mudah". Tapi, sewaktu aku tiba di negara dimana aku ditugaskan, aku tidak mendapati satu pun kebiasaan masyarakat di sini yang sama dengan masyarakat di Negaraku. Kalau pun aku melihat ada beberapa orang yang melakukannya, itu karena mereka adalah salah satu Duta seperti diriku.
Hari hampir malam, aku hampir tiba. Setelah sampai nanti aku akan langsung melaporkan semuanya dan aku akan membujuk raja agar dapat mengeluarkan Surat Keputusan kepulangan ke Negaraku.Hal ini sudah kupertimbangkan dengan matang. Semoga permohonanku dikabulkan sebelum aku menjadi betul-betul gila seperti umpatan para pemuda di pinggir jalan siang tadi.



Akhirnya aku tiba di pintu Istana Negaraku tepat tengah malam yang dihiasi sinar bulan purnama. Pintu dibuka oleh penjaga Istana yang tersenyum ramah. Ahh, rasanya lama sekali tidak merasakan sukacita dan kedamaian seperti ini. Ya, itu adalah ciri khas Negaraku.Damai dan sukacita. Tidak membuang waktu, aku langsung menuju ke balkon, tempat Rajaku sering menikmati sinar bulan purnama seperti malam ini. Benar saja,kudapati Raja sedang duduk santai di kursi goyangnya menikmati sinar bulan, semilirnya angin dan memandang ke depan, pada sinar-sinar lampu kehidupan dibawah bukit tempat aku ditugaskan.

Dengan terengah-engah karena seharian berjalan menuju Istana Negara, aku mulai menyapa Raja.
“Rajaku, apakah aku dapatbergabung menikmati sinar bulan malam ini?”
“Hahaha, anakKu kemarilah. Aku sudah tahu kamu akan datang malam ini.” Raja berdiri menghampiri dan memelukku.Ya, untuk bertemu Raja di Negaraku bukanlah hal yang sulit dan penuh dengan birokrasi serta prosedur seperti di negara tempat aku ditugaskan. Di sini Raja sangat membaur dengan rakyat, bahkan Rajaku sering mengunjungi rakyat hanya sekedar untuk berbincang, bersenda gurau, bahkan turut turun ke ladang padamasa menabur benih dan masa panen. Ya, entah kenapa di negara tempat aku ditugaskan tidak kudapati pemimpin seperti Rajaku.

Kami duduk bersama dan memandangi keindahan sinar-sinar lampu kehidupan di bawah bukit sana tempat akutinggal beberapa tahun ini.

“Apa yang hendak kamu sampaikan,Nak? Bukankah belum waktunya kamu kembali? Aku lihat pekerjaanmu di sana belumlah selesai.” Tanya Rajaku sambil menunjuk ke arah bawah bukit.
“Ya, entahlah Raja. Bagian pekerjaanku yang mana yang belum terselesaikan. Selama ini aku sudah melakukan tugas-tugasku walaupun dalam kebingungan. Mungkin walaupun sudah bertahun-tahuntinggal di negara tempat aku ditugaskan tapi aku belum mampu beradaptasi dengan baik. Karena di sana begitu berbeda dengan keadaan di sini, di Negara kita.”
“Hahaha. Aku melihat kamu sudah membaur namun tidak larut dan itu kupandang sangat baik. Tugas-tugas apa saja yang telah kamu lakukan di sana, anakKu?”
“Ya, seperti yang tertera dalam Surat Pengutusan yang isinya di sana aku hanya menjalankan kebenaran, kasih, kelembutan, kesantunan, kebaikkan, kejujuran dan pengampunan.”
“Lalu?”
“Ya, tugas-tugas itu hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan di Negara kita dan itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan di sini.”
“Kamu mendapat kesulitan di negara tempat kamu Kutugaskan?”
“Ya, kalau aku pribadi tidak sulit, karena itu sudah dilakukan sejak aku lahir, sejak dari keluargaku disini Raja. Tapi di negara sana sangatlah berbeda, di sana aku dipandang orang gila.”
“Ceritakanlah.”
“Tidak mudah mengaplikasikankebenaran di tengah keadaan yang mentertawakan kebenaran. Seringkali aku dianggap kaku, religius dan bahkan ada yang menuduhku munafik. Tetapijika ada orang yang sama dengan mereka barulah mereka anggap kawan. Aku sering diejek, dianggap lelucon bahkan beberapa julukan icon keyakinan tertentu ditujukan padaku. Sepertinya mereka alergi dengan kebenaran.”
Karena Raja masih diam, maka akupun melanjutkan laporanku.

“Tidak mudah menerapkan kasih dan kelembutan, di tengah keadaan yang melegalkan kekerasan. Pernah adasegerombolan yang protes di jalan-jalan perkotaan. Mereka protes pada raja mereka. Pada mulanya aku mendengar aksi protes mereka karena membela rakyat.Tapi semakin lama, aksi protes mereka mulai dihiasi kekerasan. Mereka membakarkendaraan yang ada. Padahal yang punya kendaraan itu tidak mengerti apa-apa.Bahkan mereka mulai melempar batu-batu ke arah pengawal-pengawal raja mereka.Dan yang parah ada yang sampai menjarah toko-toko tempat rakyat merekaberjualan. Aku melihat yang dirugikan sebenarnya rakyatnya juga. Saat aku menghampiri beberapa dari mereka untuk melakukan protes dengan jalan damai,bicara baik-baik. Tapi mereka malah menjawab jika tidak dengan kekerasan maka tidak akan dikabulkan aksi protes mereka. Kekerasan itu hal yang biasa.”

Aku lihat Raja masih mendengarkanku, maka aku melanjutkan laporanku.

“Tidak mudah berlaku santun ditengah keadaan yang memandang kesantunan sebagai sebuah kebodohan. Aku berpakaian pantas dengan tidak seronok, aku malah dianggap tidak modern sepertimereka. Saat aku tidak mau berkata-kata cabul dan mengumpat dengan sebutan nama-nama binatang, mereka bilang aku ini kampungan dan bodoh serta kurang pergaulan. Aku seperti alien yang asing dan tidak normal di tengah mereka.”
Kembali aku melanjutkan,

“Tidak mudah berlaku kudus ditengah keadaan yang menganggap kekudusan itu aneh. Aku tidak pernah melakukan seks bebas atau melecehkan siapapun. Tapi mereka menganggapku aneh dan tidak normal, dan ketika kusarankan agar melakukan seks di dalam pernikahan, mereka malah meludahiku dan mentertawakanku. Ketika aku tidak ikut berjudi dan mabuk-mabukan, mereka menjulukiku bayi."

"Tidak mudah memberikan kepedulian di tengah keadaan yang menomorsatukan keegoisan. Ketika aku memberikan bantuan kepada orang lain yang menurut pandanganku membutuhkan,dengan keras aku  disuruh untuk menyingkir dan tidak boleh membantunya.Karena bagi mereka hal itu sudah biasa. Mereka lebih dulu mengutamakan kepentingan sendiri daripada menolong orang lain. Jadi kebaikan yang kutawarkan dianggap menghina mereka yang sudah biasa hidup egois.”

Aku diam, menunggu tanggapan Rajaku.

“Teruskanlah laporanmu, Nak. Akutahu masih banyak yang ingin kamu katakan.”

“Raja, tidak mudah memberikan kebaikan di tengah keadaan yang penuh curiga dan ketakutan. Saat aku membantuseseorang aku malah dicurigai mau menipu mereka. Mereka tidak percaya pada kebaikan, mereka cenderung takut pada kebaikan, mereka takut menjadi tidak waspada dan akhirnya mendapatkan kerugian. Tidak mudah menjunjung kejujuran ditengah keadaan yang menganggap kebohongan sebagai suatu strategi yang cerdik.Banyak dari mereka yang biasa dengan berbohong, bahkan aku mendapatkan kalimat baru yang tidak ada di Negara kita yaitu ‘berbohong demi kebaikan’ dan hal itu dianggap sangat baik. Belum lagi berbohong untuk membujuk, mereka anggap itu strategi yang cerdik untuk kelanjutan hidup mereka. Yang terakhir Raja, tidak mudah mengajarkan pengampunan di tengah keadaan yang penuh dengan dendam.Banyak peristiwa karena dendam pribadi, orang yang tidak ada sangkut pautnya kehilangan nyawa. Bentrokan terjadi, perkelahian, bahkan pembunuhan yang berawal dari dendam. Dan aku mendapatkan kalimat baru lagi yang juga tidak ada di Negara kita yaitu ‘’kamu jual aku beli.”

“Lalu apa artinya semua kebenaran, kasih, kelembutan, kesantunan, kekudusan, kepedulian, kebaikan,pengampunan dan kejujuran? Jika keadaan yang normal adalah keadaan yang sebaliknya dari itu semua, Raja?”
“Karenanya aku mau pulang saja, kulihat tidak ada yang harus kuperbaiki. Mereka terlihat sangat bahagia, nyaman dan puas dengan keadaan yang Engkau pandang sebagai kesalahan. Tidak usahrepot-repot menghampiri mereka, menawarkan kebaikan-kebaikan pada mereka karena mereka baik-baik saja. Bahkan mereka tertawa terbahak di tengah keadaan itu semua, mereka hanya sedang menikmati kehidupan yang ada. Kehidupan yang singkat ini. Bukankah itu baik? Mereka menikmati hidup ini dengan segala keluhan dihari mereka sebagai luapan kenikmatan. Tidak hanya satu orang yang begitu,hampir semua orang yang kujumpai juga begitu. Hanya segelintir orang saja yang memilliki rasa dan pandangan yang sama denganku, yaitu mereka yang Engkau pilih juga untuk menjadi DutaMu.’’

“Aku mau pulang saja Raja,karena aku lebih betah di Negara kita. Di sini apa yang kubawa, apa yang kukerjakan, apa yang kuberikan kepada mereka, adalah hal yang normal yang sudah biasa kita lakukan tidak seperti di sana, di negara tempat aku ditugaskan. Seringkali aku dihujani dengan hujatan, cacian, dan pengusiran. Karena dianggap telah mengusik kenyamanan mereka.”

“Lihatlah, Raja! Lihatlah mereka! Mereka baik-baik saja. Mereka nyaman dan bahagia. Aku jadi merasa bersalah karena ketika aku datang kebahagiaan dan kenyamanan mereka terganggu,lalu aku melihat sorot kepedihan dan ketakutan di mata mereka.” Kataku padaRaja sambil menunjuk ke arah bawah bukit.

“Engkau salah, Raja! Engkau terlalu berlebihan. Ah, mereka baik-baik saja sebelum aku datang. Maka, dengan alasan-alasan tadi aku mengajukan percepatan masa tugasku. Bukankah jika tidak ada yang dapat kulakukan lagi di sini aku bisa pulang? Berarti aku bisa minta Surat Keputusan kepulanganku bukan? Sebelum aku semakin gila dan aku takut menjadi sama dengan mereka.”

‘’Tidak! Kamu belum boleh pulang, Nak! Pekerjaanmu belum selesai. Semua duta-dutaku belum boleh ada yang pulang.”
“Ah, ini buang-buang waktu saja. Apa lagi yang harus kami lakukan?”
“Tetap lakukan kebenaran, kebaikan, kesantuan, kekudusan, kejujuran, kasih pengampunan dan kepedulian.”
“Sampai kapan?! Aku mulai jengah dengan tugas-tugas ini. Ibarat aku ini jualan sepatu di tengah-tengah orang yang sejak lahir tidak mengenal sepatu. Mereka tidak membutuhkan sepatu! Mungkin kau salah menempatkanku? Mungkin ada tempat lain yang lebih pantasuntuk kuberikan 'sepatu'?.
“Tidak! negara itu tempat yang tepat! Tugasmu tetaplah perkenalkan ‘sepatu-sepatu’ yang kau bawa.
“Tapi, sampai kapan?? Aku tidakingin terlalu lama di sana. Aku takut semakin lama aku tinggal, semakin aku serupa dengan mereka. Bahkan sudah banyak di antara kami yang Kau tugaskan mulai sama dengan mereka bahkan ada yang sudah seperti mereka. Aku tidak mau seperti itu. Tidakkah kau kasihan padaku?”
“Aku mulai mencium kekhawatiran dan keegoisan ada dalam dirimu. Darimanakah kamu dapatkan itu? Aku tidak membekali hal itu padamu.”
“Oh, ya?! Wah, berarti aku harussegera pulang! Aku sudah mulai seperti mereka. Kumohon, berilah aku Surat Keputusan kepulanganku, Raja. Karena aku tidak mau seperti mereka. Terlebih aku tidak mau menjadi orang yang tidak memiliki identitas Negara kita lagi.”
“Tidak! Karena belum waktunya.Kembalilah kepada mereka dan lakukanlah segala tugas-tugasmu.”
“Tidakkah keputusanMu dapat diubah? Sekali lagi ijinkanlah aku pulang dan kembali mengabdi padaMu di sini,di Negara kita ini.”
“Lakukanlah pekerjaanmu di negara itu sebagai bentuk pengabdianmu kepadaKu, Nak.”
“Baiklah! Baiklah! Aku akan kembali pada mereka dan menjalankan tugas-tugasku, tapi bisakah persenjataan dan perbekalanku di tambah?”

“Ya, Aku akan memperlengkapimu.Aku akan memberimu perisai agar kau terhindar dari lemparan, pukulan, tendangan dan segala macam bentuk serangan mereka. Dan Aku juga akan memberimu mata yang berbeda, yaitu mata sepertiKu serta hatimu akan Kuperbaharui dengan hatiKu.”
“Baiklah. Kapan semua itu diberikan kepadaku?”
“Saat ini juga. Berlututlah dan pejamkanlah matamu serta berdiam dirilah.”

Aku menuruti perintah Rajaku.

“Nah, sekarang bukalah matamu dan berdirilah. Lalu berbaliklah kepada mereka.”
“Sebelum kamu kembali kepada mereka. Berbaliklah, menghadaplah ke arah bawah bukit itu. Apa yang kau lihat?”
“Ouw!! Ihh!! Pemandangan apa ini? Kenapa banyak dari mereka terlihat berdarah? Dan bau apa ini? Uh, aku tidak pernah melihat pemandangan yang mengenaskan seperti ini sebelumnya. Dan suara apa itu??? Mereka terlihat tertawa tetapi kenapa aku mendengar jeritan kepedihan dan tangis putus asa? Bisakah kau jelaskan semua ini? Apa yang terjadi dengan mereka?

“Sesungguhnyak Nak, itulah keadaan mereka yang sebenarnya. Orang-orang yang akan binasa adalah orang-orangyang mentertawakan kebenaran, yang menganggap keegoisan adalah kenikmatan, yang menganggap kekudusan, kesantunan, kepedulian, dan kejujuran suatu kebodohan.Mereka berkawan dengan kekerasan, dendam dan melecehkan kasih.”

“Kasihan mereka! Mereka tidak pernah merasa ‘sakit’, mereka menganggap diri mereka baik-baik saja. Bahkan menganggapku yang gila.” Aku mulai menangisi mereka.

“Ya, sesungguhnya ada beberapadari mereka yang tersentuh hari nuraninya dengan hal-hal baik yang telah kamu lakukan, mereka hanya malu, gengsi, bahkan takut untuk menyuarakan dukungan untukmu.Tetapi jauh didasar hati nurani mereka, sesungguhnya mereka tidak bahagia,tidak nyaman dengan segala keonaran dan kekerasan yang terjadi. Hati mereka setuju dengan apa yang kau lakukan tapi mulut mereka takut oleh keadaan untuk mengakuinya. Oleh karena itu. Aku belum menyuruhmu pulang! Tugasmu belum selesai.”

“Ini akan menjadi tugas yang berat dan lama. Padahal aku sudah merindukan rumah dan keluargaku.”

“Memang tidak mudah, dan pasti berat. Tapi bukankah matamu adalah mataKu dan hatimu adalah hatiKu? Ituartinya, kamu tidak bekerja sendiri, Aku bersamamu. TugasMu adalah teruslah lakukan tugas-tugas kebajikan yang kuperintahkan dan beritakan tentang Aku yang mengasihi mereka dan menginginkan mereka tidak binasa.”
“Ya, karena mataMu di dalam mataku, aku bisa memandang mereka dengan lebih baik. Memandang mereka dengan penuh rasa kasih. Ya, Baiklah! Akan kuselesaikan pekerjaan ini hingga selesai. Sama seperti Engkau aku tidak ingin mereka binasa.”

“Ya, ini tugas agung. Kau adalah dutaKu dan tugas-tugas yang kuberikan bukanlah sesuatu yang sia-sia namun harusdiperjuangkan! Jangan takut karena Aku bersamamu! Setialah dengan tugas-tugasmu!”
“Ya, kini baru kupahami, betapaEngkau pribadi yang penuh dengan belas kasihan. Tadinya kukira Engkau ini memberikan pekerjaan yang sia-sia kepadaku. Tapi, rupanya semua ini Kau lakukan karena Kau sangat mengasihi mereka. Padahal banyak dari mereka yang tidakmengenalMu.”

“Memang, banyak yang belummengenalKu! Untuk itulah kamu harus mengenalkanKu pada mereka melaluitugas-tugas yang Kuberikan kepadamu.”

“Tapi, mengapa beberapa yang telah mengenalMu tetap ikut mentertawakan dan menganggapku bodoh?”
“Karena mereka hanya mendengar tentangKu tapi sesungguhnya mereka belum mengenalKu. Namun, ada juga dariantara mereka yang telah mendengarKu dan mengenalKu. Ada pula yang diam-diam melakukan tugas-tugas kebajikan seperti yang kau lakukan, dan ada juga yang dengan berani terang-terangan melakukannya. Tidakkah ini menghiburmu?”

“Ya, baiklah. Aku berangkat sekarang dan aku tidak akan protes lagi.”
“Pergilah! Selesaikan tugasmu. Aku menyertaimu.”

Akhirnya aku berpamitan dan bersimpuh pada Rajaku. Raja yang penuh dengan kelembutan yang menginginkansukacita dan damai di Negara kami dapat juga tercipta di negara tempatku ditugaskan. Mata yang baru, hati yang baru ini memberi kekuatan dan fokus dalam menjalankan tugasku.

Aku kembali menuruni bukit menuju kehidupan di bawah bukit dengan pemahaman yang baru dan pengertian yang baru. Dengan tekad yang kuat akan kuselesaikan tugasku hingga Raja menyuruhku pulang kelak, entah kapan. Ya, aku akan sangat merindukan Rajaku yang bijaksana dan kehidupan di Negaraku. Tapi itulah yang memotivasiku untuk tetap berdiritegak meski rasanya seperti hendak memasuki medan peperangan.

Ketika aku mulai memasuki jalan bebatuan menuju jalan-jalan perkampungan dan perkotaan, semakin tajam aku mendengar ratap tangis, pemandangan yang mengenaskan dan aroma yang tidak sedapdi tengah seringai mereka. Sambil meneruskan perjalananku aku berdoa “kasihanilah mereka”.

Ditulis Oleh  Rellin A. Isdianto

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Copyright © 2013 Kristus All Right Reserved