Breaking News
Loading...

Search This Blog

Recent Post

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Tuesday, April 9, 2013
Sepatu

Sepatu

Sudah satu minggu rumah begitu sepi. Tak ada suara orang berbincang, tak ada suara televisi atau radio dinyalakan. Sepanjang waktu, dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, hingga pagi lagi, yang terasa hanyalah dingin. Dan semakin dingin. Tak ada lagi kehangatan barang seteguk. Wangi aroma racikan bumbu yang dulu selalu tercium dari dapur di kala pagi kini telah sirna. Kata-kata rayuan untuk sarapan, apalagi.

Senandung lagu-lagu cinta disela gemericik air senyap sudah. Tiada lagi terdengar riuhnya canda tawa. Semua
lenyap tertelan derasnya ombak kehidupan. Yang tinggal hanyalah derit pintu, mempersilakan nyonya rumah untuk keluar di kala pagi. Kemudian diam, menanti waktu hingga sang nyonya kembali di kala hari telah larut.

Rumah itu tak lagi seperti rumah pada umumnya. Bahkan penampilannya pun layaknya rumah tak berpenghuni. Debu tebal dimana-mana, pohon perindang di depan rumah yang tak terawat mulai mengering. Daunnya berserakan memenuhi halaman. Mungkin si pemilik rumah terlalu sibuk, tak punya waktu untuk urusan yang demikian.

Hampir bersamaan dengan kepergian Dina untuk KKN di Blora, kira-kira lima pekan yang lalu, Wening semakin giat memberikan ceramah kepada Sabar. Kepergian putri semata wayang mereka laksana sebuah kesempatan emas bagi Wening. Setiap sore setelah pulang kerja, ada saja tema untuk mengkhotbahi suaminya yang ia sebut sebagai pria tak bertanggung jawab itu. Semangatnya begitu menggebu-gebu. Kadang ia juga begitu ringan mengangkat telunjuknya untuk menuding muka Sabar di sela rentetan kalimat yang amat pedas itu.

Pagi ini di kantor, Wening terlihat begitu serius. Tangannya memegang sebuah benda. Matanya begitu teliti mengamat-amati benda itu. Benda yang sangat istimewa, salah satu pemberian Sabar dikala mereka menikah dulu. Benda yang sempat ia simpan selama dua puluh tiga tahun. Benda itu masih utuh, masih mulus. Warnanya pun masih sama seperti dulu di saat ia membukanya dari dalam kotak bingkisan berwarna merah jambu. Benda yang selalu rela diinjak-injak untuk melindungi tuannya. Benda yang sarat akan makna: sepatu.

Tadi, tergesa-gesa melangkah karena dipanggil atasan, Wening sempat hampir jatuh karena sepatu dengan hak setinggi lima belas centi yang dipakainya itu. Spontan, ia duduk di kursinya, mengusap-usap kakinya yang terkilir dengan balsam dan melepas sepatu itu. Ia taruh begitu saja sepatu itu di atas meja. Tiba-tiba bak kaset film yang diputar ulang, dalam otaknya mengalir deras ingatan tentang pesan yang tersimpan di balik sepatu dengan warna favoritnya: warna ungu.

Begitu jelas tergambar di dalam ingatan, bagaimana dulu ketika ia duduk bersanding bersama Sabar, untuk mengucapkan janji setia untuk saling menerima di dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, hingga maut memisah raga.  Saat itu Wening begitu lantang mengucap janji sucinya.
Khotbah pendeta yang kala itu mengangkat tema Sepatu, seakan didengarnya kembali. Bergema begitu keras di telinganya. Dulu, ia mendapat bekal bagaimana ia harus bisa menjadi Istri: Ingat Suami Terus setiap haRI. Belum lagi bagaimana makna yang terkandung di dalam Sepatu. Pendeta mengatakan, pasangan suami-istri hendaklah seperti sepatu, yang tak pernah sama persis bentuknya, tetapi serasi. Tak pernah berganti posisi, namun saling melengkapi. Meski tak pernah berjalan bersama, tetapi selalu beriringan. Meski geraknya berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama. Selalu setara, sederajat, sama tingginya, tidak tinggi sebelah. Dan tak akan memiliki arti lagi jika pasangannya hilang.

Wening mendesah. Di tariknya nafas dalam-dalam. Air matanya tak tertahan. Jawaban “Ya, dengan segenap hati” yang begitu tegas ia sampaikan di depan altar dulu, kini terasa menyiksa batinnya. Sejak Sabar di PHK dua tahun lalu, Wening kehilangan keseimbangan. Ia merasa dirinyalah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.
Mungkin ia merasa jenuh, tertekan. Mungkin juga galau, atau apalah namanya.

Dulu gajinya selalu utuh 100% masuk ke dalam rekening pribadinya. Biaya hidup sehari-hari selalu bersumber dari penghasilan Sabar. Ia tinggal acungkan saja jarinya untuk menunjuk apa yang ia inginkan. Kini setelah Sabar di PHK, Sabar seperti menghambur-hamburkan uang. Usahanya untuk berwiraswasta selalu merugi. Dari bertani jamur hingga membuka usaha laundry, belum pernah berhasil. Mungkin karena ketatnya persaingan, atau mungkin juga belum rejeki. Yang jelas, Sabar tak pernah menganggapnya sebagai takdir. Terakhir, Sabar mencoba beternak itik. Sayang usahanya kali ini pun tak begitu menjanjikan, meski masih terus ia perjuangkan. Malang, pekerjaan ini bagi Wening dianggap begitu jorok. Membuatnya turun prestise di kampus. Bagaimana mungkin seorang pembantu rektor bersuamikan peternak itik? Apa kata mahasiswanya jika mereka tahu!

Tiga bulan berlalu, keadaan belum membaik. Semakin parah bahkan. Sore itu, tak disangka Pendeta bertandang kerumahnya. Menanyakan kabar, yang dijawab dengan begitu terbuka oleh Wening. Ia sampaikan segala isi hatinya.
“Sudah hampir dua puluh lima tahun saya memendam rasa ini!”
“Apakah Ibu sudah berusaha memaafkan kesalahan suami Ibu?”
“Ya, saya memaafkan. Dengan tulus saya maafkan. Tetapi saya sudah tidak tahan. Sudah hampir dua puluh lima tahun Pak!”
Pendeta itu dibuatnya bingung. Tak mengerti maksud kata-kata Wening. Bagaimana ia bisa mengatakan kesalahan Sabar telah ia maafkan jika ia memendam kepahitan itu? Bagaimana ia bisa mengatakan telah memaafkan tetapi tak pernah melupakan kesalahan-kesalahan Sabar yang tampak sepele? Kata-kata “hampir dua puluh lima tahun” selalu ia bawa. Apakah sepanjang kehidupan rumah tangganya ia tak pernah mencintai suaminya? Tak pernah merasa bahagia? Atau mungkin hanya karena ia kurang bersyukur?
Seperti kentang yang terus ditimbun ke dalam karung. Setiap Sabar melakukan sesuatu yang dianggap salah, Wening menambahkannya ke dalam daftar timbunan kesalahan Sabar. Yang pada akhirnya membusuk, berbau dan menjadi beban berat bagi dirinya sendiri.
Suasana menjadi beku. Kaku. Semua diam. Sesekali Sabar melirik istrinya. Wening masih terlihat garang, merah membara.
“Dina belum pulang?” Pendeta mengalihkan pembicaraan, mencairkan kebekuan.
“Wah...pulang malam itu biasa Pak, bagi Dina. Bahkan kadang sering tidak pulang.” Papar Sabar terang-terangan.

Ya, sejak Dina mencium aroma konflik antara ayah dan ibunya, ia sering menjadikan skripsinya sebagai alasan untuk pulang malam, bahkan tidak pulang ke rumah. Sebenarnya Ia merasa tersiksa dengan sikap ibunya yang terus-menerus menyulut bara di rumah itu. Maka dari itu ia lebih memilih untuk menyingkir. Ia kini juga telah berubah. Pembawaannya sedingin salju. Penampilannya lusuh, tak lagi rapi dan ceria seperti dulu.

Waktu terus bergulir. Matahari yang setia menjemput pagi tak mampu memberikan asa baru yang penuh harapan demi datangnya kehangatan cinta. Sabar harus semakin bertambah sabar karena kini Wening tak mengijinkannya tidur di dalam rumah. Teras rumah adalah pilihan kedua setelah dinginnya tempat jemuran di atas rumah tak sanggup ia taklukkan.

Tak mampu lagi ia sembunyikan ketidakharmonisan rumah tangganya di depan tetangga, yang curiga dengan tingkahnya.
“Belum tidur Pak?” tanya Badrun yang kebetulan melintas pada suatu malam.
“Belum, cari angin.”
Siapa percaya dengan omong kosong Sabar? Dinginnya malam menusuk tulang ia kata cari angin?
Sebenarnya Wening telah beberapa kali mengusir Sabar. Tetapi Sabar tak bergeming. Ia tak mau meruntuhkan rumah tangganya begitu saja. Di dalam benaknya, ia berharap agar suatu saat bisa kembali rukun dengan istrinya. Walau mungkin lebih tepatnya ia masih sabar menunggu sampai istrinya mereda. Meskipun dirinya tak pernah tahu entah kapan itu bisa terwujud.

“Apa yang kau tunggu? Angkat kaki dari rumah ini atau aku tusukkan juga pisau ini ke tubuhku!” ancam Wening suatu ketika

Kejadian itu semakin memperkeruh suasana. Hampir satu minggu Dina tak pulang. Apa yang telah ia saksikan di rumahnya sendiri terasa lebih mengerikan dari film horor yang pernah ia tonton di sepanjang hidupnya.
“Apa yang harus saya perbuat Pak? Saya tidak mau keluarga saya hancur hanya karena tingkah istri saya. Apakah saya salah jika memiliki usaha ternak itik? Apakah itu terlalu menjijikkan? Jorok? Hina? Selama ini saya juga berusaha menggantikan tugas istri saya mengatur rumah tangga. Mungkin memang sedikit aneh karena tugas kami seperti tertukar. Tetapi lihat sekarang! Sejak saya tak boleh masuk ke dalam rumah, bahkan tak boleh menyentuh perabotan di dalam rumah. Rumah tak lagi terurus, cucian menumpuk, debu dimana-mana, tak layak tempat tinggal itu di sebut sebagai rumah. Bahkan yang paling parah, sekarang anak kami satu-satunya, Dina, tak lagi tinggal bersama kami, entah dimana dia. Saya coba menghubungi nomor HPnya, saya cari dia ke rumah teman-temannya, saya tunggu dia di depan kampusnya, tetapi hasilnya nihil. Apa yang mesti saya perbuat Pak? Pasrah saya, pasrah...” Sabar mencurahkan isi hatinya kepada Pendeta.

“Tetaplah mengasihi dengan sabar, dan tetaplah berdoa” hanya itu pesan Pendeta. Singkat, tetapi tak mudah. Sabar diam, dalam hati ia berpikir, apa alasan orang tuanya dulu memberinya nama Sabar? Apakah memang untuk menanggung beban berat seperti yang ia terima sekarang?

Memaafkan dan melupakan setiap kesalahan yang dilakukan Wening, seakan harus menjadi menu wajib Sabar setiap hari. Bertemu tetapi tak ada senyuman, tatapan kasih, apalagi sapaan. Kadang Sabar merasa sangat disepelekan, direndahkan. Pepatah 'tak ada uang abang dibuang' adalah ungkapan yang sangat cocok untuk disandangnya sebagai gelar.

Sore hari, Wening pulang lebih awal dari biasanya. Sesuatu yang sangat tidak lazim. Apalagi ia terlihat begitu bersemangat untuk menemui lelaki lima puluh tahun yang masih sah sebagai suaminya itu. Wening menyapa Sabar dengan nada yang begitu lembut, dengan senyum simpul dibibir merahnya. Tanpa amarah. Akh... mungkinkah tirai mulai terbuka???

Mungkinkah sepatu pemberian Sabar berhasil mengingatkan Wening akan janji sucinya terhadap pernikahan yang telah ia sepakati tanpa paksaan di kala itu? Apakah Wening akan menggenapi pesan tersirat dari sepatu? Apakah Wening telah meruntuhkan keegoisannya? Atau mungkin ia telah menyadari bagaimana seharusnya ia menerima Sabar apapun dan bagaimanapun keadaannya? Bukankah ia masih sudi mengenakan sepatu pemberian Sabar itu?

Dengan menahan derai air mata Wening menghampiri Sabar dan berlutut didepannya. “Maafkan aku Mas, aku begitu egois. Kebersamaan kita selama ini tak kuanggap. Pengorbanan dan cintamu selama ini aku abaikan. Aku terlalu sibuk mengasihani diriku sendiri, sampai aku lupa segalanya,” aku Wening penuh penyesalan. Ia semakin tertunduk dan semakin membungkuk. Namun belum sampai ia mencium kaki suaminya, Sabar telah lebih dulu menarik bahu Wening, mengajaknya berdiri dan merapatkannya dalam dekapan. “Disinilah tempatmu, bukan diujung kaki. Karena kamu adalah tulang rusukku, pelindungku,” bisik Sabar diakhiri dengan kecupan di kening Wening. Wening semakin terisak. Ia dekap erat tubuh Sabar sambil membisikkan: “Terima kasih untuk sepatu itu, sepatu itulah yang telah menyadarkanku Mas. Engkau memang begitu sayang padaku. Hanya saja aku yang selama ini tak mempedulikanmu...” “Sstttt... sudah!” Sabar menghentikan Wening. “Yang penting sekarang kita memulai hidup baru dan mengisi hari-hari kita dengan cinta.” “Dan aku mau memperbaharui janji kita supaya kita bisa mewujudkan janji kita untuk sepatu,” sahut Wening sambil menahan isak tangis. “Sejalan Sampai Tua,” ucap Sabar dan Wening bersamaan. Dari kejauhan Dina melihat ayah dan ibunya yang tengah berpelukan. Ia mendekat, namun tetap berusaha agar tak terlihat oleh Sabar dan Wening. Jantungnya berdegup kencang. Matanya basah. Ia berbisik lirih: “Terima kasih, Tuhan. Engkau baik!”


Ditulis Oleh Endang Lestari

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Wednesday, April 3, 2013
no image

Duta

Aku berjalan dalam kebingungan karena keadaan di sekitarku begitu berbeda dengan keadaan di Negaraku. Di sinisaling mengumpat, mencaci maki dengan kata-kata cabul begitu normal, bahkan mereka dengan sukacita melakukannya. Padahal jika di Negaraku, orang yang berani melakukan itu semua apalagi terang-terangan di pinggir jalan sepertiitu, pastilah akan langsung ditangkap dan dipenjara.

“Hei, apa kamu lihat-lihat! Mau dihajar?! Heh? Hahahha. Dasar orang gila!”

Aku diam saja mendapat hardikan dari salah satu di antara mereka dan saat mereka mulai mentertawakanku lagi,aku memilih untuk meneruskan perjalananku. Ya, aku harus segera sampai ketempat tujuanku agar kebingungan ini segera terselesaikan. Aku membelokkan kakiku ke arah jalan berbatu yang menuju hutan lebat. Keheningan hutan begitunyaman di telingaku, setelah berhari-hari aku mendengarkan hiruk pikuk orang-orang yang mengajukan protes di jalan-jalan besar perkotaan dengan suara-suara protes mereka yang memekakkan telinga. Entahlah apa yang mereka protes. Karena di Negaraku tidak pernah ada segerombolan orang yang berteriak dijalanan kota seperti itu. Istilah-istilah yang mereka pakai pun aku tidak mengerti.

Suara alam terdengar ketika kakiku mulai memasuki sejuknya hutan yang mulai melantunkan irama kedamaian.Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan kedamaian dan kesejukan seperti ini. Sudah sangat lama, entah sejak kapan, yang pasti hidupku mulai dihiasi dengan cerita-cerita seronok, bahkan tempat tinggalku berada di antara orang-orang yang memiliki kebiasaan minum anggur hingga mabuk dan mulaiberteriak-teriak melantur di tengah malam. Sering kali ketika hampir pagi aku dibangunkan dengan suara – suara perkelahian akibat kalah judi, kalah taruhan atau rebutan pelacur. Aku heran darimana asal permainan itu? Sungguh permainanyang dapat dengan sangat mudah membuat orang berkelahi bahkan kehilangan nyawanya. Ah, aku harus segera menuju bukit di belakang hutan ini sebelum malam tiba.

Aku mulai merangkak menaiki bukit. Kembali kurenungkan awal mula penugasanku ke negara ini. Waktu itu aku tidak berpikir akan seberat ini melakukan tugas sebagai Duta dari Negaraku, karena ketika kubaca Surat Keputusan penugasanku dan kubaca dengan teliti daftar tugas yang harus kukerjakan, tidak ada pekerjaan yang berat dan sulit.Tugas-tugas itu sudah sangat biasa dilakukan di Negaraku, karena sudah menjadi budaya masyarakat di Negaraku. Waktu itu aku berpikir, "sungguh aneh daftar tugas ini, bukankah semua itu hal yang biasa? Semua aturan yang sudah menyatu dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sini? Hahaha, rupanya tugas Duta negara itu sangat mudah". Tapi, sewaktu aku tiba di negara dimana aku ditugaskan, aku tidak mendapati satu pun kebiasaan masyarakat di sini yang sama dengan masyarakat di Negaraku. Kalau pun aku melihat ada beberapa orang yang melakukannya, itu karena mereka adalah salah satu Duta seperti diriku.
Hari hampir malam, aku hampir tiba. Setelah sampai nanti aku akan langsung melaporkan semuanya dan aku akan membujuk raja agar dapat mengeluarkan Surat Keputusan kepulangan ke Negaraku.Hal ini sudah kupertimbangkan dengan matang. Semoga permohonanku dikabulkan sebelum aku menjadi betul-betul gila seperti umpatan para pemuda di pinggir jalan siang tadi.



Akhirnya aku tiba di pintu Istana Negaraku tepat tengah malam yang dihiasi sinar bulan purnama. Pintu dibuka oleh penjaga Istana yang tersenyum ramah. Ahh, rasanya lama sekali tidak merasakan sukacita dan kedamaian seperti ini. Ya, itu adalah ciri khas Negaraku.Damai dan sukacita. Tidak membuang waktu, aku langsung menuju ke balkon, tempat Rajaku sering menikmati sinar bulan purnama seperti malam ini. Benar saja,kudapati Raja sedang duduk santai di kursi goyangnya menikmati sinar bulan, semilirnya angin dan memandang ke depan, pada sinar-sinar lampu kehidupan dibawah bukit tempat aku ditugaskan.

Dengan terengah-engah karena seharian berjalan menuju Istana Negara, aku mulai menyapa Raja.
“Rajaku, apakah aku dapatbergabung menikmati sinar bulan malam ini?”
“Hahaha, anakKu kemarilah. Aku sudah tahu kamu akan datang malam ini.” Raja berdiri menghampiri dan memelukku.Ya, untuk bertemu Raja di Negaraku bukanlah hal yang sulit dan penuh dengan birokrasi serta prosedur seperti di negara tempat aku ditugaskan. Di sini Raja sangat membaur dengan rakyat, bahkan Rajaku sering mengunjungi rakyat hanya sekedar untuk berbincang, bersenda gurau, bahkan turut turun ke ladang padamasa menabur benih dan masa panen. Ya, entah kenapa di negara tempat aku ditugaskan tidak kudapati pemimpin seperti Rajaku.

Kami duduk bersama dan memandangi keindahan sinar-sinar lampu kehidupan di bawah bukit sana tempat akutinggal beberapa tahun ini.

“Apa yang hendak kamu sampaikan,Nak? Bukankah belum waktunya kamu kembali? Aku lihat pekerjaanmu di sana belumlah selesai.” Tanya Rajaku sambil menunjuk ke arah bawah bukit.
“Ya, entahlah Raja. Bagian pekerjaanku yang mana yang belum terselesaikan. Selama ini aku sudah melakukan tugas-tugasku walaupun dalam kebingungan. Mungkin walaupun sudah bertahun-tahuntinggal di negara tempat aku ditugaskan tapi aku belum mampu beradaptasi dengan baik. Karena di sana begitu berbeda dengan keadaan di sini, di Negara kita.”
“Hahaha. Aku melihat kamu sudah membaur namun tidak larut dan itu kupandang sangat baik. Tugas-tugas apa saja yang telah kamu lakukan di sana, anakKu?”
“Ya, seperti yang tertera dalam Surat Pengutusan yang isinya di sana aku hanya menjalankan kebenaran, kasih, kelembutan, kesantunan, kebaikkan, kejujuran dan pengampunan.”
“Lalu?”
“Ya, tugas-tugas itu hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan di Negara kita dan itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan di sini.”
“Kamu mendapat kesulitan di negara tempat kamu Kutugaskan?”
“Ya, kalau aku pribadi tidak sulit, karena itu sudah dilakukan sejak aku lahir, sejak dari keluargaku disini Raja. Tapi di negara sana sangatlah berbeda, di sana aku dipandang orang gila.”
“Ceritakanlah.”
“Tidak mudah mengaplikasikankebenaran di tengah keadaan yang mentertawakan kebenaran. Seringkali aku dianggap kaku, religius dan bahkan ada yang menuduhku munafik. Tetapijika ada orang yang sama dengan mereka barulah mereka anggap kawan. Aku sering diejek, dianggap lelucon bahkan beberapa julukan icon keyakinan tertentu ditujukan padaku. Sepertinya mereka alergi dengan kebenaran.”
Karena Raja masih diam, maka akupun melanjutkan laporanku.

“Tidak mudah menerapkan kasih dan kelembutan, di tengah keadaan yang melegalkan kekerasan. Pernah adasegerombolan yang protes di jalan-jalan perkotaan. Mereka protes pada raja mereka. Pada mulanya aku mendengar aksi protes mereka karena membela rakyat.Tapi semakin lama, aksi protes mereka mulai dihiasi kekerasan. Mereka membakarkendaraan yang ada. Padahal yang punya kendaraan itu tidak mengerti apa-apa.Bahkan mereka mulai melempar batu-batu ke arah pengawal-pengawal raja mereka.Dan yang parah ada yang sampai menjarah toko-toko tempat rakyat merekaberjualan. Aku melihat yang dirugikan sebenarnya rakyatnya juga. Saat aku menghampiri beberapa dari mereka untuk melakukan protes dengan jalan damai,bicara baik-baik. Tapi mereka malah menjawab jika tidak dengan kekerasan maka tidak akan dikabulkan aksi protes mereka. Kekerasan itu hal yang biasa.”

Aku lihat Raja masih mendengarkanku, maka aku melanjutkan laporanku.

“Tidak mudah berlaku santun ditengah keadaan yang memandang kesantunan sebagai sebuah kebodohan. Aku berpakaian pantas dengan tidak seronok, aku malah dianggap tidak modern sepertimereka. Saat aku tidak mau berkata-kata cabul dan mengumpat dengan sebutan nama-nama binatang, mereka bilang aku ini kampungan dan bodoh serta kurang pergaulan. Aku seperti alien yang asing dan tidak normal di tengah mereka.”
Kembali aku melanjutkan,

“Tidak mudah berlaku kudus ditengah keadaan yang menganggap kekudusan itu aneh. Aku tidak pernah melakukan seks bebas atau melecehkan siapapun. Tapi mereka menganggapku aneh dan tidak normal, dan ketika kusarankan agar melakukan seks di dalam pernikahan, mereka malah meludahiku dan mentertawakanku. Ketika aku tidak ikut berjudi dan mabuk-mabukan, mereka menjulukiku bayi."

"Tidak mudah memberikan kepedulian di tengah keadaan yang menomorsatukan keegoisan. Ketika aku memberikan bantuan kepada orang lain yang menurut pandanganku membutuhkan,dengan keras aku  disuruh untuk menyingkir dan tidak boleh membantunya.Karena bagi mereka hal itu sudah biasa. Mereka lebih dulu mengutamakan kepentingan sendiri daripada menolong orang lain. Jadi kebaikan yang kutawarkan dianggap menghina mereka yang sudah biasa hidup egois.”

Aku diam, menunggu tanggapan Rajaku.

“Teruskanlah laporanmu, Nak. Akutahu masih banyak yang ingin kamu katakan.”

“Raja, tidak mudah memberikan kebaikan di tengah keadaan yang penuh curiga dan ketakutan. Saat aku membantuseseorang aku malah dicurigai mau menipu mereka. Mereka tidak percaya pada kebaikan, mereka cenderung takut pada kebaikan, mereka takut menjadi tidak waspada dan akhirnya mendapatkan kerugian. Tidak mudah menjunjung kejujuran ditengah keadaan yang menganggap kebohongan sebagai suatu strategi yang cerdik.Banyak dari mereka yang biasa dengan berbohong, bahkan aku mendapatkan kalimat baru yang tidak ada di Negara kita yaitu ‘berbohong demi kebaikan’ dan hal itu dianggap sangat baik. Belum lagi berbohong untuk membujuk, mereka anggap itu strategi yang cerdik untuk kelanjutan hidup mereka. Yang terakhir Raja, tidak mudah mengajarkan pengampunan di tengah keadaan yang penuh dengan dendam.Banyak peristiwa karena dendam pribadi, orang yang tidak ada sangkut pautnya kehilangan nyawa. Bentrokan terjadi, perkelahian, bahkan pembunuhan yang berawal dari dendam. Dan aku mendapatkan kalimat baru lagi yang juga tidak ada di Negara kita yaitu ‘’kamu jual aku beli.”

“Lalu apa artinya semua kebenaran, kasih, kelembutan, kesantunan, kekudusan, kepedulian, kebaikan,pengampunan dan kejujuran? Jika keadaan yang normal adalah keadaan yang sebaliknya dari itu semua, Raja?”
“Karenanya aku mau pulang saja, kulihat tidak ada yang harus kuperbaiki. Mereka terlihat sangat bahagia, nyaman dan puas dengan keadaan yang Engkau pandang sebagai kesalahan. Tidak usahrepot-repot menghampiri mereka, menawarkan kebaikan-kebaikan pada mereka karena mereka baik-baik saja. Bahkan mereka tertawa terbahak di tengah keadaan itu semua, mereka hanya sedang menikmati kehidupan yang ada. Kehidupan yang singkat ini. Bukankah itu baik? Mereka menikmati hidup ini dengan segala keluhan dihari mereka sebagai luapan kenikmatan. Tidak hanya satu orang yang begitu,hampir semua orang yang kujumpai juga begitu. Hanya segelintir orang saja yang memilliki rasa dan pandangan yang sama denganku, yaitu mereka yang Engkau pilih juga untuk menjadi DutaMu.’’

“Aku mau pulang saja Raja,karena aku lebih betah di Negara kita. Di sini apa yang kubawa, apa yang kukerjakan, apa yang kuberikan kepada mereka, adalah hal yang normal yang sudah biasa kita lakukan tidak seperti di sana, di negara tempat aku ditugaskan. Seringkali aku dihujani dengan hujatan, cacian, dan pengusiran. Karena dianggap telah mengusik kenyamanan mereka.”

“Lihatlah, Raja! Lihatlah mereka! Mereka baik-baik saja. Mereka nyaman dan bahagia. Aku jadi merasa bersalah karena ketika aku datang kebahagiaan dan kenyamanan mereka terganggu,lalu aku melihat sorot kepedihan dan ketakutan di mata mereka.” Kataku padaRaja sambil menunjuk ke arah bawah bukit.

“Engkau salah, Raja! Engkau terlalu berlebihan. Ah, mereka baik-baik saja sebelum aku datang. Maka, dengan alasan-alasan tadi aku mengajukan percepatan masa tugasku. Bukankah jika tidak ada yang dapat kulakukan lagi di sini aku bisa pulang? Berarti aku bisa minta Surat Keputusan kepulanganku bukan? Sebelum aku semakin gila dan aku takut menjadi sama dengan mereka.”

‘’Tidak! Kamu belum boleh pulang, Nak! Pekerjaanmu belum selesai. Semua duta-dutaku belum boleh ada yang pulang.”
“Ah, ini buang-buang waktu saja. Apa lagi yang harus kami lakukan?”
“Tetap lakukan kebenaran, kebaikan, kesantuan, kekudusan, kejujuran, kasih pengampunan dan kepedulian.”
“Sampai kapan?! Aku mulai jengah dengan tugas-tugas ini. Ibarat aku ini jualan sepatu di tengah-tengah orang yang sejak lahir tidak mengenal sepatu. Mereka tidak membutuhkan sepatu! Mungkin kau salah menempatkanku? Mungkin ada tempat lain yang lebih pantasuntuk kuberikan 'sepatu'?.
“Tidak! negara itu tempat yang tepat! Tugasmu tetaplah perkenalkan ‘sepatu-sepatu’ yang kau bawa.
“Tapi, sampai kapan?? Aku tidakingin terlalu lama di sana. Aku takut semakin lama aku tinggal, semakin aku serupa dengan mereka. Bahkan sudah banyak di antara kami yang Kau tugaskan mulai sama dengan mereka bahkan ada yang sudah seperti mereka. Aku tidak mau seperti itu. Tidakkah kau kasihan padaku?”
“Aku mulai mencium kekhawatiran dan keegoisan ada dalam dirimu. Darimanakah kamu dapatkan itu? Aku tidak membekali hal itu padamu.”
“Oh, ya?! Wah, berarti aku harussegera pulang! Aku sudah mulai seperti mereka. Kumohon, berilah aku Surat Keputusan kepulanganku, Raja. Karena aku tidak mau seperti mereka. Terlebih aku tidak mau menjadi orang yang tidak memiliki identitas Negara kita lagi.”
“Tidak! Karena belum waktunya.Kembalilah kepada mereka dan lakukanlah segala tugas-tugasmu.”
“Tidakkah keputusanMu dapat diubah? Sekali lagi ijinkanlah aku pulang dan kembali mengabdi padaMu di sini,di Negara kita ini.”
“Lakukanlah pekerjaanmu di negara itu sebagai bentuk pengabdianmu kepadaKu, Nak.”
“Baiklah! Baiklah! Aku akan kembali pada mereka dan menjalankan tugas-tugasku, tapi bisakah persenjataan dan perbekalanku di tambah?”

“Ya, Aku akan memperlengkapimu.Aku akan memberimu perisai agar kau terhindar dari lemparan, pukulan, tendangan dan segala macam bentuk serangan mereka. Dan Aku juga akan memberimu mata yang berbeda, yaitu mata sepertiKu serta hatimu akan Kuperbaharui dengan hatiKu.”
“Baiklah. Kapan semua itu diberikan kepadaku?”
“Saat ini juga. Berlututlah dan pejamkanlah matamu serta berdiam dirilah.”

Aku menuruti perintah Rajaku.

“Nah, sekarang bukalah matamu dan berdirilah. Lalu berbaliklah kepada mereka.”
“Sebelum kamu kembali kepada mereka. Berbaliklah, menghadaplah ke arah bawah bukit itu. Apa yang kau lihat?”
“Ouw!! Ihh!! Pemandangan apa ini? Kenapa banyak dari mereka terlihat berdarah? Dan bau apa ini? Uh, aku tidak pernah melihat pemandangan yang mengenaskan seperti ini sebelumnya. Dan suara apa itu??? Mereka terlihat tertawa tetapi kenapa aku mendengar jeritan kepedihan dan tangis putus asa? Bisakah kau jelaskan semua ini? Apa yang terjadi dengan mereka?

“Sesungguhnyak Nak, itulah keadaan mereka yang sebenarnya. Orang-orang yang akan binasa adalah orang-orangyang mentertawakan kebenaran, yang menganggap keegoisan adalah kenikmatan, yang menganggap kekudusan, kesantunan, kepedulian, dan kejujuran suatu kebodohan.Mereka berkawan dengan kekerasan, dendam dan melecehkan kasih.”

“Kasihan mereka! Mereka tidak pernah merasa ‘sakit’, mereka menganggap diri mereka baik-baik saja. Bahkan menganggapku yang gila.” Aku mulai menangisi mereka.

“Ya, sesungguhnya ada beberapadari mereka yang tersentuh hari nuraninya dengan hal-hal baik yang telah kamu lakukan, mereka hanya malu, gengsi, bahkan takut untuk menyuarakan dukungan untukmu.Tetapi jauh didasar hati nurani mereka, sesungguhnya mereka tidak bahagia,tidak nyaman dengan segala keonaran dan kekerasan yang terjadi. Hati mereka setuju dengan apa yang kau lakukan tapi mulut mereka takut oleh keadaan untuk mengakuinya. Oleh karena itu. Aku belum menyuruhmu pulang! Tugasmu belum selesai.”

“Ini akan menjadi tugas yang berat dan lama. Padahal aku sudah merindukan rumah dan keluargaku.”

“Memang tidak mudah, dan pasti berat. Tapi bukankah matamu adalah mataKu dan hatimu adalah hatiKu? Ituartinya, kamu tidak bekerja sendiri, Aku bersamamu. TugasMu adalah teruslah lakukan tugas-tugas kebajikan yang kuperintahkan dan beritakan tentang Aku yang mengasihi mereka dan menginginkan mereka tidak binasa.”
“Ya, karena mataMu di dalam mataku, aku bisa memandang mereka dengan lebih baik. Memandang mereka dengan penuh rasa kasih. Ya, Baiklah! Akan kuselesaikan pekerjaan ini hingga selesai. Sama seperti Engkau aku tidak ingin mereka binasa.”

“Ya, ini tugas agung. Kau adalah dutaKu dan tugas-tugas yang kuberikan bukanlah sesuatu yang sia-sia namun harusdiperjuangkan! Jangan takut karena Aku bersamamu! Setialah dengan tugas-tugasmu!”
“Ya, kini baru kupahami, betapaEngkau pribadi yang penuh dengan belas kasihan. Tadinya kukira Engkau ini memberikan pekerjaan yang sia-sia kepadaku. Tapi, rupanya semua ini Kau lakukan karena Kau sangat mengasihi mereka. Padahal banyak dari mereka yang tidakmengenalMu.”

“Memang, banyak yang belummengenalKu! Untuk itulah kamu harus mengenalkanKu pada mereka melaluitugas-tugas yang Kuberikan kepadamu.”

“Tapi, mengapa beberapa yang telah mengenalMu tetap ikut mentertawakan dan menganggapku bodoh?”
“Karena mereka hanya mendengar tentangKu tapi sesungguhnya mereka belum mengenalKu. Namun, ada juga dariantara mereka yang telah mendengarKu dan mengenalKu. Ada pula yang diam-diam melakukan tugas-tugas kebajikan seperti yang kau lakukan, dan ada juga yang dengan berani terang-terangan melakukannya. Tidakkah ini menghiburmu?”

“Ya, baiklah. Aku berangkat sekarang dan aku tidak akan protes lagi.”
“Pergilah! Selesaikan tugasmu. Aku menyertaimu.”

Akhirnya aku berpamitan dan bersimpuh pada Rajaku. Raja yang penuh dengan kelembutan yang menginginkansukacita dan damai di Negara kami dapat juga tercipta di negara tempatku ditugaskan. Mata yang baru, hati yang baru ini memberi kekuatan dan fokus dalam menjalankan tugasku.

Aku kembali menuruni bukit menuju kehidupan di bawah bukit dengan pemahaman yang baru dan pengertian yang baru. Dengan tekad yang kuat akan kuselesaikan tugasku hingga Raja menyuruhku pulang kelak, entah kapan. Ya, aku akan sangat merindukan Rajaku yang bijaksana dan kehidupan di Negaraku. Tapi itulah yang memotivasiku untuk tetap berdiritegak meski rasanya seperti hendak memasuki medan peperangan.

Ketika aku mulai memasuki jalan bebatuan menuju jalan-jalan perkampungan dan perkotaan, semakin tajam aku mendengar ratap tangis, pemandangan yang mengenaskan dan aroma yang tidak sedapdi tengah seringai mereka. Sambil meneruskan perjalananku aku berdoa “kasihanilah mereka”.

Ditulis Oleh  Rellin A. Isdianto

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Sunday, July 29, 2012
Dia Mendengar

Dia Mendengar


Peter Brutsch


“ Nell! Hp-mu bunyi tuh! Kayaknya ada sms.”
“ Ya… tunggu, aku lagi di kamar mandi.”
“ Kamu ngapain sih? Ko’ lama sekali. Kayaknya bukan sms, karena Hp-mu tadi bunyi lagi.” Teriak Debby
“ Iya.. iya!” Aku langsung menuju kamarku dan melihat nomor yang tertera di layar Hp-ku. “ Kamu bener Deb, bukan sms tapi telepon.”
“ Baguslah. Hmm, biar kutebak pasti dari Rere.” Tanya Debby dengan menatapku. Aku menganguk-angguk dan memberi isyarat pada Debby agar segera keluar dari kamarku. “ Iiih… kalau menyangkut Rere pasti aku tersisih deh.” Rajuk Debby.
“ Deb…. Please!”
“ Iya..iya deh.” Debby bangkit menuju pintu sambil melemparkan bantal ke arahku.
“ Deb!” Teriakku. Debby keluar dengan mentertawakanku.
Setelah Debby pergi aku langsung telepon Rere. Terdengar nada sambung. Satu kali, dua kali. Tidak ada jawaban. Pada nada yang ketiga barulah terdengar suara di ujung sana.
“ Halo.”
“ Halo, Re. Kamu tadi telepon aku ya, ada apa?” Tanyaku dengan riang.
“ Hmm, iya aku…aku cuma mau ngobrol sama kamu.”
Kecewa dengan nada Rere yang datar aku bertanya dengan nada biasa
“ Ooh, ngobrol apa?”
“ Hhm…kamu baik-baik saja kan, Nell?”
“ Baik. Kamu?” Sepertinya Rere sedang berbasa-basi
“ Aku baik.”
“ Re, ada apa sih? Langsung saja deh tidak usah muter-muter.” Tanyaku tidak sabar
“ Nell, aku… aku….” Rere menghela nafas “ Nell, aku… maksudku kita. Kita harus putus.”
Aku terdiam. Berusaha untuk tidak kehilangan akal sehatku.
“ Kenapa Re?”
“ Aku bertemu dengan wanita lain.”
Aku menghela nafas “Re, ini kan bukan yang pertama kalinya kamu mengkhianati aku. Kamu sering bertemu wanita lain selama 5 tahun berpacaran denganku. Selama itu pun aku selalu menerima kamu kembali. Aku hanya menganggap kamu sedang ingin bermain-main di luar sana dan kamu akan pulang setelah kamu capek bermain. Please Re, ini tidak benar kan? Kamu tidak akan meninggalkan aku demi wanita itu kan?”
Tangisku mulai pecah dan aku menyesalinya.
“ Nell, aku harus memilih dia.”
“ Tapi kenapa Re? Aku kurang apa selama ini?” aku nyaris berteriak dan mulai putus asa
“ Karena dia hamil Nell, aku menghamilinya.”

***

 “ Nelly! Kamu baru datang? latihan sudah dimulai dari tadi loh.”
“ Iya. Sorry ya Deb. Aku tadi ada urusan sedikit.” Jawabku di antara nafas yang tak teratur.
“ Ya sudah, ganti baju sana! Terus langsung gabung sama yang lain.”
Jawabanku hanya berupa anggukan saja. Aku tidak berani menatap mata Debby. Koordinator ministry dance sekaligus sahabatku yang satu ini selalu tahu kalau aku berbohong atau ada yang kusembunyikan.
Selama latihan dengan teman-teman ministry dance aku tidak fokus. Ada sesuatu yang mengganggu konsentrasiku. Sialnya Fer sang koreografer menangkap kekacauanku.
“ Oke. Teman-teman break dulu 5 menit.” Teriak Fer memberi komando
Saat itulah kudapati Fer menuju ke arahku. “ Nell, kamu kelihatan kacau sekali hari ini. Kamu baik-baik saja?” Ada nada cemas dalam pertanyaannya.
Dengan tersenyum penuh keyakinan aku menjawab “ Aku oke ko’ Fer. Tenang saja. Aku tadi hanya agak lupa dengan beberapa gerakan. Itu saja.”
“ Oke, kalau begitu kamu harus latihan lebih keras lagi. Ingat Nell, kita latihan dance untuk melayani Tuhan di acara Paskah dua minggu lagi. Kamu mengerti kan maksudku?”
“ Iya.” Jawabku. Fer masih menatapku tajam seolah tidak puas dengan jawabanku
“Aku mengerti Fer, sangat mengerti.” Aku nyaris berteriak bahkan mungkin menangis kalau Fer tidak segera pergi dari hadapanku. Dan saat dia melenggang begitu saja menuju teman-teman lainnya. Barulah aku bisa bernafas lega.
“ Oke, Position Please!” Ku dengar Fer memberi aba-aba.
Aku dan teman-teman lain segera mengambil posisi masing-masing. Sesekali aku menangkap tatapan penuh tanya dari Debby. Dan ketika musik diputar aku mulai hanyut menyatu dengan irama, melebur dengan liriknya yang menggambarkan pengorbanan Sang Maha Cinta. Tanpa sadar aku menangis.

***

Hari sudah sore saat aku tiba di kosku. Rasa lelah setelah latihan dance tidak lagi terasa, aku hanya ingin lekas masuk ke kamar dan mengurung diri. Tidak kuacuhkan sapaan ibu kos, begitu juga dengan teman-teman kos yang lain dan aku langsung masuk kamar tanpa menoleh lagi.

Di sudut kamarku aku mulai menumpahkan tangisku. Pintu dan jendela sengaja kukunci dan lampu kumatikan. Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun.

Ya Tuhan. Bagaimana aku bisa melayanimu di hari paskah nanti? Bagaimana aku bisa menari untuk Engkau? Bagaimana bisa audience melihat Engkau dalam diriku? Bagaimana mungkin aku menjadi berkat untuk mereka? Kalau keadaanku saja seperti ini.  Aku sakit Tuhan…aku terpuruk…aku merasa seperti terperosok di sebuah lubang yang sangat dalam di mana tidak ada satu orang pun yang dapat menarikku keluar. Di sekitarku hanya ada kegelapan, dingin dan sendiri. Oh Tuhan aku tidak sanggup lagi. Ampunilah aku dan bantulah aku, sembuhkan lukaku ini Tuhan. Tuhan…jangan diam! Dengarkanlah aku!

Tangisku pecah, dadaku terasa sesak dan tubuhku lemas. Aku benar-benar tak berdaya. Namun menurutku Tuhan masih diam.

“Nell, kamu di dalam kan? Buka pintunya Nell!” Itu suara Debby yang mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Aku diam, aku hanya ingin sendiri meresapi rasa sakit ini hingga membuat tulang-tulangku terasa ngilu.

“Nell…ayolah! Buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam. Nell, please!”
Aku tetap bergeming.
“ Nell, aku akan tunggu sampai kamu membuka pintu, bila perlu aku tidur di depan pintu kamarmu!”

Debby paling hanya menggertakku, aku yakin dia akan bosan dan akan menyerah pulang. Tapi aku mendengar gagang pintu diputar dari luar terus-menerus, rupanya Debby belum menyerah juga. Lama-lama aku tidak tega membiarkan Debby menunggu di luar. Kuputar gagang pintu dan kubuka, aku mendapati Debby berdiri termangu memandangiku. Sebelum dia berteriak histeris karena melihat tampangku yang acak-acakan segera kutarik dia masuk ke dalam.

“Ya ampun Nell, kamu kacau sekali. Ada apa sih? Cerita dong sama aku, jangan di pendam sendiri.” Debby menenangkan dan memelukku. Tapi bukannya tenang tangisku malah pecah. Sesaat Debby hanya menepuk-nepuk pundakku.
“ Nell… Rere ya? Dia menyakiti kamu lagi?”

Aku tertunduk di hadapan Debby, bibirku masih terasa berat untuk bercerita.
“Nell, sampai kapan kamu akan diam dan terpuruk sendiri seperti ini? Sementara Rere, mungkin saat ini dia tidak memikirkanmu sama sekali. Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi lelaki seperti dia.”
“Deb, mulai besok aku tidak akan ikut latihan. Aku akan mengundurkan diri dari tim yang melayani di hari paskah nanti.”
“Kenapa Nell?”
Kupandang Debby dengan penuh keyakinan “ Deb, itu sudah keputusanku!”
“Tapi kenapa Nell? hanya karena Rere?”
“Itu bukan karena Rere, tapi aku.”
“Oke! Aku akan mendukung keputusan kamu itu. Tapi, berikan aku alasan yang tepat.”
“Deb, kita tahu dance itu untuk siapa? Untuk Tuhan kan? Dan sekarang kamu lihat bagaimana keadaanku. Aku tidak layak melayani di hari paskah nanti. Tuhan sendiri bilang dalam firmanNya sebelum kita melayani Dia kita harus membereskan dulu hal-hal yang belum beres dalam diri kita. Kita menari agar audience yang melihat merasa diberkati dan mereka dapat melihat Kristus dalam tarian kita sehingga ada sukacita dalam hidup mereka. Sekarang bagaimana bisa aku menjadi berkat bagi mereka dengan keadaanku yang seperti ini?”
“Benar apa yang kamu katakan. Pertama yang harus kamu lakukan adalah bereskan dulu hal-hal yang belum beres dalam diri kamu!”
“Tidak semudah itu Deb.”
“Nell, serahkanlah segalanya pada Tuhan. Dia selalu ada buat kamu, Dia yang akan menyeka air matamu dan menyembuhkan lukamu. Tuhan sangat mengerti apa yang terbaik buat hidupmu. Ada sesuatu yang indah di balik semua ini.”
“Deb, bagiku saat ini tidak ada yang dapat mengerti bagaimana sakitnya aku. Tidak kamu, tidak teman-teman, tidak juga Tuhan. Tuhan hanya diam”
“Kamu salah Nell. Oke, mungkin benar aku tidak mengerti begitu juga teman-teman. Tapi ada satu pribadi yang sangat mengerti bagaimana rasa sakitmu itu. Bagaimana hancurnya ketika dikhianati. Dia mengerti Nell, sangat mengerti.”
Aku menggelengkan kepala. Sebelum aku menyangkal, Debby buru-buru menambahkan “Nelly! Jangan keraskan hatimu. Tanpa kamu sadari Tuhan sedang mengetuk hatimu. Dia ingin masuk ke dalam jiwamu, membangun kembali hatimu yang hancur. Coba renungkan! Kenapa semua ini terjadi pada saat menjelang hari paskah? Renungkan Nell! Ya, karena Tuhan ingin mengingatkan kita semua. Tuhan pernah sakit, Tuhan pernah dikhianati hingga Dia harus mati di kayu salib. Jika Dia mau, Dia mampu menghindari semua itu karena Dia adalah Tuhan. Tetapi sedikit pun Dia tidak lari karena semua itu sudah kehendak Bapa dan di balik semua itu ada rencana yang  indah. Bayangkan jika waktu itu Dia tidak dikhianati, Dia tidak akan mati di kayu salib dan kita manusia masih terbelenggu dosa.”

Nelly terdiam, direnungkannya apa yang telah terjadi, dalam hatinya dia berkata, ya aku merasakan sakitnya dikhianati, sakitnya di tinggal. Tapi apa maksud semuanya ini, Tuhan? Aku merasa sendiri, namun benar kata Debby, aku tidaklah sendiri, sesungguhnya Engkau ya Yesus turut merasakan sakit hatiku. Apakah Engkau sedang memprosesku untuk memahami kesakitan dan pengorbananMu di kayu salib? Apakah ada bagian dalam diriku yang hendak Engkau kikis dan hancurkan di atas salibMu, agar aku semakin berkenan bagiMu? Apakah melalui peristiwa ini Engkau hendak menyatakan hanya Engkaulah pribadi yang setia?. Dalam tangisnya Nelly seakan mendengar Yesus berkata kepadanya “Sakitmu dikhianati dan ditinggalkan sudah terlebih dulu kurasakan di kayu salib. Ya, salib itu, pengorbananku itu adalah bagianKu untuk menyelamatkan semua manusia, karena Aku mengasihi semua manusia, termasuk kamu Nelly. Bagianmu adalah kamu harus pulih, bersedia diproses sehingga dapat melepaskan pengampunan. Aku mengasihimu Nelly.”

Ya Tuhan, benar apa yang dikatakan Debby tadi. Engkau sangat mengerti dan peduli. Maafkan aku Tuhan, aku telah meragukan kasihMu. Ampunilah aku dan masuklah dalam hatiku, penuhilah dengan kasih setiaMu. Jadilah kehendakMu Tuhan bukan kehendakku dan mampukanlah aku taat dan setia dalam segala pembentukanMu atas hidupku.
***
“Nell, terima kasih ya. Tarian tim-mu tadi sangat luar biasa memberkati aku dan juga teman-teman yang lain.” Fer menyalamiku setelah perayaan paskah selesai.
“Sama-sama Fer. Itu semua karena kasih karunia Tuhan dan tentunya karena kamu juga. Terimakasih ya, kamu sudah mau melatih aku dan teman-teman dengan penuh kesabaran.”
Aku dan Fer tersenyum. Malam ini sukacita memenuhi hati kami apalagi melihat para audience yang sudah mulai pulang dengan senyum di wajah mereka. Ya, aku sangat mengucap syukur atas apa yang telah kualami, yang membuat aku semakin mengerti arti pengorbananNya..

“Fer, aku pinjam Nelly sebentar ya.” Debby tiba-tiba menarik tanganku.
“Deb, ada apa sih? Pelan-pelan dong jalannya.”
“Ayo cepat Nell, ada yang mau kenalan dengan kamu.”
Debby berbicara dengan antusias sementara aku hanya heran dan penasaran.
“Ya, inilah dia. Nell, ini orang yang ingin kenalan sama kamu. Oke, aku tinggal ya! Chris, nanti kamu yang mengantar Nelly pulang ya!” Debby pergi dengan tersenyum jahil. Dalam hatiku ‘awas kamu Debby!’.
“Iya tenang aja Deb..Hai Nell, aku Chris” kujabat tangan Chris yang terulur dengan senyum termanisku.

Ditulis Oleh Rellin Ayudya

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Sunday, July 8, 2012
Di Sebuah Kebun Jagung Kau Menemukanku

Di Sebuah Kebun Jagung Kau Menemukanku


Kebun jagung ini berjarak 200 meter dari rumah Kakekku, luasnya ternyata tidak lebih dari 2 hektar. Pagi yang dingin ini tak menghalangiku untuk mengunjunginya meski bukan masa panen, karena masih dibutuhkan waktu dua bulan lagi bagi tongkol-tongkol jagung yang terselip itu siap untuk dipetik. Dua hari ini hatiku serasa membeku, peristiwa yang baru saja terjadi membuatku sedih sampai tak mampu lagi menangis. Di kebun jagung ini pernah terjadi dua hal sekaligus yang mengubah hidupku sebagai seorang Dias.

Sejenak aku teringat saat usiaku masih 5 tahun, dahulu kebun ini serasa sebuah hutan lebat yang ditumbuhi tanaman jagung dewasa dengan rapat sampai-sampai aku menangis karena tidak dapat menemukan jalan keluar dari dalamnya. Masih melekat dalam ingatanku bagaimana takutnya aku saat itu, dalam benakku aku merasa sudah tamat hidupku. aku membayangkan bahwa aku tersesat ke sebuah dunia yang lain yang berbeda dengan yang selama ini aku kenal. Tidak ada Papa, Mama, Kakek, Nenek, dan kue apel yang dibuat Nenekku. Aku tersesat dan tidak bisa pulang. Ketakutanku bertambah saat kudengar suara burung gagak yang sesekali seolah terbang melintas di atas kepalaku. Dan dalam keadaan seperti itu, Dias kecil hanya bisa menangis. Entah berapa lama aku menangis di sela ketakutanku, rasa-rasanya sampai parau suaraku bahkan air mataku juga sudah tidak bisa keluar lagi. Peristiwa itu adalah peristiwa paling menakutkan seumur hidupku.

          Di tengah kebingunganku aku berusaha menemukan jalanku pulang, di tengah ketakutanku dan sisa kekuatanku kusibak batang-batang jagung yang mengelilingiku namun tak kutemukan, aku malah semakin tersesat. Aku hilang arah, dengan tinggi badan kurang lebih 83 cm saat itu aku tidak dapat melihat apapun kecuali batang-batang pohon jagung di sekelilingku.

Tiba-tiba aku mendengar ada suara yang memanggilku
“Diaaaasssss….”
“Diaaaasssss….”
“Kakek datang untuk menemukanmuuuuuu…”
“Diaaaassss… jangan bergerak lagi naaakkk..”
“sekarang diamlah di tempatmuuuuu… kakek akan menemukanmuuuu….”
“Diaaaaasssss…. Dengar suara Kakek naaaakkkk?????”
Sontak aku berseru dengan sisa-sisa kekuatanku untuk menjawab suara itu semampuku
“Kakeeeekkkk….”
“Kakeeeekkkk….”
“Dias disiniiiiii… Dias menunggu Kakeeeekkkkk…”
“Kakeeekkkk….. Kakek dengar suara Diasss????..”
“Huhuhuhu…..”

Air mataku kembali mengalir deras saat aku menyadari bahwa seruan terakhirku hanya sampai di kerongkongan karena aku telah kehabisan suara. Aku hanya bisa terduduk dan menangis sambil melihat ke langit seraya memohon kepada Tuhan supaya Dia membawa Kakek kepadaku. Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar mengalami kesulitan besar dan merasa hanya Dia yang sanggup menolongku. Seketika aku berhenti menangis, mencoba berseru lagi dengan suara yang seadanya
“Kakeeeeekkkk…”
“Jangan takut Dias, kakekmu pasti dapat menemukanmu..”

Sejenak setelah suara itu terdengar di telingaku, tiba-tiba aku melihat kakekku telah menyibak batang-batang jagung di depanku dan berdiri di hadapanku. Saat aku menatapnya, dia langsung berhambur ke arahku dan memelukku seraya berkata
“Ya Tuhan terimakasih…”
“O… Haleluya..”

Dalam pelukkan kakek aku menangis lagi, dan tiba-tiba suaraku yang hilang muncul kembali bahkan lebih kencang lagi. Tapi aku merasakan tangisanku ini berbeda, tangis ini adalah tangisan haru, gembira, dan lega karena aku telah ditemukan. Dalam hati baru aku menyadari bahwa apa yang aku sampaikan pada Tuhan untuk pertama kalinya dijawab-Nya dengan segera. Sambil memeluk erat kakekku aku berseru dalam hati menyatakan persetujuanku dengan seruan kakek, “Terimakasih Tuhan…”

          Sudah 10 tahun peristiwa itu berlalu sejak Papa dan Mama mengajakku pindah ke kota karena tuntutan pekerjaan Papa, namun peristiwa itu tidak pernah hilang dari ingatanku. Aku menutup mata dan merasakan aliran hangat dari mataku. Getar yang ada dalam hatiku saat ini juga sama dengan apa yang aku rasakan 10 tahun yang lalu di tempat ini. Dalam pelukan kakekku, aku diperkenalkan pada seorang Pribadi yang membawa kakek menemukan aku. Ya, Yesus namanya, demikian kakek memanggilnya. Semakin deras aliran hangat itu keluar dari mataku namun aku tersenyum bahagia, karena peristiwa itu telah membawaku mengenal Yesus yang selalu dapat menemukanku dan menolongku.

          Kebun jagung yang dahulu pernah menjadi tempat yang sangat menakutkan bagiku, seketika itu juga menjadi tempat terindah bagiku untuk mendapatkan kekuatan dalam masa-masa sulitku. Seperti saat ini, ketika aku berduka karena seseorang yang dekat di hatiku tak lagi ada di sampingku. Kakek Yusak, demikian orang mengenalnya. Kemarin Tuhan telah menutup usianya pada bilangan 80 tahun dalam damai sejahtera tanpa keadaan apapun yang menyakitinya. Kakek meninggal tepat sehari setelah aku pulang kembali ke rumah ini, saat kami sedang menyanyikan kidung pujian bersama seperti yang dahulu pernah kami lakukan. Aku sudah merasakan hal itu sejak seminggu sebelum aku pulang ke rumah ini, entahlah seperti suara Tuhan yang memberitahuku,

“Pulanglah segera, ada hal penting yang akan terjadi.”

Dan inilah hal penting itu, perginya seorang Kakek Yusak yang penuh kasih dan bijaksana ke Rumah Tuhan. Dalam keheningan dan kesejukan pagi ini aku bergumam,

“Hhhh…. Kakek, Dias percaya kau aman di sana sekarang. Seperti Dia yang telah menolongmu menemukanku kala itu, Dia juga yang akan membawamu masuk dalam kekekalan yang damai bersama-Nya. Terimakasih Kakek karena kau memperkenalkanku pada-Nya yang sekarang sedang bersamamu. Sampai bertemu lagi Kakekku tercinta, di suatu masa nanti. Oohhh…. Terimakasih Yesus.”

Aku membuka mataku perlahan-lahan, dan kudapati dunia menjadi lebih indah dengan hal yang baru saja aku dapatkan. Aku jadi merasakan kelegaan dan kedamaian bukan lagi duka seperti sebelumnya. Aku pun tersenyum…
Entah berapa hal lagi dan apa lagi yang akan aku alami setelah ini. Di kebun jagung ini aku telah dimampukan untuk melihat jalan-jalan di hadapanku dengan senyum. Tidak lagi seperti Dias berusia 5 tahun yang kebingungan mencari jalan keluar sambil menangis seakan tidak ada jalan keluar. Sekarang aku dapat merasakan kekuatan dan tuntunan tangan dari Seseorang yang diperkenalkan kakek kepadaku secara nyata. Dialah Yesus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Bersama-Nya telah kutemukan jalanku ^^,


Untuk Nenekku yang terkasih
Aku mencintaimu, ini karya pertamaku ^^,
Terimakasih Tuhan untuk waktu yang pernah kami miliki bersama
Aku selalu rindu waktu yang akan kami miliki bersama lagi dengan Engkau ‘nanti’
Solo, 22-23 Juni 2012
01.28

Ditulis Oleh Sango Chan

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Saturday, April 28, 2012
Berani Beda

Berani Beda

Hari hampir pagi tapi mata Dwi belum juga terpejam. Terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan dan nyanyian burung hantu di sebuah pohon dekat apartemennya. Dwi terbaring dengan gelisah, semakin dipejamkan matanya semakin dia terjaga. Tubuhnya menggigil kedinginan yang tanpa disadarinya rasa dingin itu bukanlah karena pikiran-pikirannya melainkan dari jendela yang lupa ditutup. Tak tahan Dwi bangkit dari tempat tidur dan keluar menuju dapur. Diambilnya gelas, dituangkannya susu dan air panas. Aroma susu coklat menusuk hidungnya. Dwi percaya susu coklat dapat membuatnya rileks.
“Wi, sedang apa kamu?”

“Hhmm? Oh, biasa aku bikin susu. Kamu belum tidur Lin?”
“Aku tadi sudah tidur tapi terbangun oleh suara berisik dari dapur.”
Dwi tersenyum melihat Linda yang masih mengantuk. Dwi duduk di sofa sementara Linda membaringkan dirinya di sofa panjang. Dwi menghidupkan TV di depannya namun tidak ada acara yang menarik bahkan beberapa stasiun sudah berhenti menayangkan acara.

“Ya ampun Wi. Ini sudah jam dua pagi. Memangnya masih ada acara di TV?”
“Aku juga tahu ini sudah jam dua. Aku cuma iseng ko’. Kalau mau tidur lagi di kamar sana Lin.”
“Nanti ah. Eh, Wi. Kamu kenapa sih sudah beberapa hari ini kayaknya tidak pernah tidur?”
“Aku insomnia. Makanya aku bikin susu coklat ini biar bisa tidur.”
“Memang ada efeknya? Aku lihat walaupun kamu sudah minum susu coklat itu tiap malamnya tetap saja tidak bisa tidur?”
“Iya juga sih. Tapi paling tidak aku agak rileks.”
“Kamu kelihatan gelisah Wi, pasti ada masalah ya?”
“Sok tahu.”
Linda bangkit dan duduk di sofa menghadap Dwi. Diambilnya gelas yang berisi susu dari tangan Dwi dan diletakkannya di atas meja “Ayo sekarang kamu cerita ke aku!”
“Cerita apa Lin?”

“Wi, aku ini sahabat kamu kan? Kita berteman sudah bertahun-tahun. Kita sama-sama merantau di kota ini. Masa sekian lama kenal, kamu belum percaya juga sama aku?”
“Hehehe, kamu tuh lucu Lin. Ko’ kamu jadi sentimentil begitu?”
“Hei Non…Kita tinggal di apartemen ini sudah tahunan. Jadi aku tahu kalau kamu insomnia kayak begini pasti kamu lagi ada masalah. Ayolah cerita dong!”
“Cerita apa?”
“Iiihh…jual mahal amat sih. Oke biar kutebak. Kamu pasti lagi ada masalah sama Aldi?”
“Iih apaan sih. Aku sama Aldi itu baik-baik saja. Tidak ada masalah.”

“Hhmm kalau begitu kamu pasti habis berantem dengan si Ida rekan kerjamu yang rese itu?”
“Kamu salah. Sudah ah. aku mau tidur lagi.”
Linda belum mau menyerah juga. Diikutinya Dwi masuk kamar.
“Lin, kalau tidur di kamarmu sana.”

“Aku belum mau tidur lagi ko’. Aku mau mendengarkan curahan hati kamu.”
Linda naik ke atas tempat tidur Dwi dan menunggu. Dwi menghela nafas melihat kegigihan teman sekamarnya itu. Dia pun naik ke tempat tidur dan duduk menghadap Linda.
“Oke, aku akan ceritakan semuanya Tapi kamu harus menjaga kerahasiaannya.”
“Oke.” Linda tersenyum

“Aku sedang bingung. Tiga hari yang lalu aku bertemu klien. Kamu ingat Ibu Vina yang pernah kuceritakan dulu?”
“Hhmm Ya. Yang mendaftarkan sepuluh merek sekaligus itu kan?”
“Yup. Nah, tiga hari yang lalu aku bertemu dengannya. Ibu Vina mau mendaftarkan Desain Industrinya. Ada sembilan desain yang mau didaftarkan.”

“Wah, bagus dong Wi. Itu berarti kamu dapat bonus banyak sekali. Terus masalahnya apa? Hhmm, pasti si Ida itu tidak senang dengan kesuksesan kamu itu. Dia sinis lagi sama kamu ya?”
“Iihh bukan itu. Kalau masalahnya karena Ida sih tidak akan membuat aku insomnia kayak begini. Rugi.”
“Lah terus apa dong masalahnya? Seharusnya kamu senang akhir bulan ini bisa gajian banyak.”

“Yah, aku bingung saja. Ibu Vina ingin mendaftarkan desain industrinya karena dia tidak ingin didahului oleh Pak Anto yang memiliki soft furniture. Ya, kalau masalahnya karena tidak ingin didahului, itu tidak masalah Lin. Yang jadi masalah nanti kalau desain industrinya Ibu Vina sudah didaftarkan dia mau menuntut Pak Anto untuk menghentikan produksi desain yang sama.”

“Setahuku, itu memang hak pendaftar kan? Hak apa, yang kamu bilang dulu?”
“ First to file. Iya memang dia berhak tetapi sebenarnya Ibu Vinalah yang meniru desain Pak Anto.”
“Ya sudah kalau begitu kamu datang saja ke Pak Anto dan suruh dia mendaftarkan semua desainnya terlebih dahulu.”
“Masalahnya Pak Anto itu murah hati sekali. Dia tidak keberatan kalau desain-desainnya dia ditiru oleh orang lain. Padahal bisnis dia bisa saja terancam.”

“Hhmm, bingung juga sih. Pak Anto yang menciptakan desain, tapi nanti dia yang dituntut Ibu Vina kalau sampai Ibu Vina mendaftarkan desainnya terlebih dulu. ”

“Selain itu Ibu Vina sedang terlibat konflik dengan suaminya. Ibu Vina ingin mendaftarkan desain-desain industri atas namanya sendiri tetapi suaminya menginginkan pendaftaran atas namanya. Pak Wawan suaminya Ibu Vina tidak rela jika nama istrinya yang dipakai untuk mendaftarkan desain industri mereka, karena Pak Wawanlah direkturnya.”
“Wah…pelik juga ya masalahnya. Terus kamu sudah konsultasi belum dengan teman-teman kantormu?”
“Sudah.”
“Saran mereka apa?”
“Saran mereka sih biar Ibu Vina menyelesaikan dulu masalah dengan suaminya. Agar ada kesepakatan di antara mereka.”

“Kalau masalah dengan Pak Anto, saran mereka apa?”
“Aku disuruh membujuk Ibu Vina untuk tidak menuntut Pak Anto. Apalagi Ibu Vina sendiri mengakui bahwa desain industri yang akan dia daftarkan itu tidak original.”

“Ya sudah kamu lakukan saja sesuai dengan saran dari teman-temanmu itu Wi.”
“Aku juga inginnya begitu. Tapi kemarin masalah ini terdengar oleh atasanku, Pak Wahyu. Dan saran yang diberikan Pak Wahyu itu berbeda dengan saran dari teman-teman.”
“Memangnya dia menyarankan apa?

“Pak Wahyu bilang kalau aku jangan sampai terlibat dengan konfliknya klien. Jadi kalau Ibu Vina akan mendaftarkan desain-desain industrinya dan setelah itu dia akan mensomasi Pak Anto, biarkan saja. Aku hanya membantunya mendaftarkan, kalau masalah mensomasi aku lepas tangan itu bukan urusanku lagi. Sedangkan untuk masalah Ibu Vina dan suaminya aku disarankan untuk menghubungi Ibu Vina dan juga Pak Wawan, siapa yang paling cepat membayar biaya pendaftaran, itu yang kita tangani. Tidak masalah memakai nama Ibu Vina atau suaminya.”
“Wah…Bos-mu money oriented sekali ya Wi.”

“Yang jadi pikiranku Lin. Semua yang disarankan oleh Pak Wahyu itu tidak sesuai dengan hati nuraniku. Aku takut berdosa. Jika aku sekarang membantu Ibu Vina bagaimana nasib Pak Anto nanti? Padahal siapa tahu suatu saat Pak Anto mau mendaftarkan desain industrinya yang lain? Bagiku klien itu bukan hanya untuk saat ini tapi juga investasi untuk bulan-bulan yang akan datang. Sedangkan masalah Ibu Vina dan suaminya jika aku membantu salah satunya bukankah aku sudah membantu memperuncing masalah di antara mereka?”
“Iya juga sih Wi.”

“Pak Wahyu juga bilang aku tidak boleh emosional. Di dalam dunia bisnis ‘emotional will kill you’. Apalagi Ibu Vina itu klien potensial. Sudah beberapa kali dia mendaftarkan banyak merek, hak cipta dan juga desain industri. Semua ini menguras tenaga dan pikiranku Lin. Makanya aku tidak pernah bisa tenang beberapa hari ini. Dan pagi ini aku diminta mengambil keputusan. Apakah aku akan mengikuti saran dari Bosku itu atau urusan pendaftaran desain industri Ibu Vina ini akan dilimpahkan ke teman-teman yang lain.”

“Memangnya temanmu ada yang menyanggupi Wi?”
“Ada.”
“Let me guess…Ida kan?.”
“Yup!”
“Itu berarti resikonya bulan ini kamu tidak mencapai target dan kemungkinan gajimu tidak penuh?”
“Ya. Itu konsekuensinya Lin.”
“Bisnis itu memang kejam ya Wi?”
“Iya. Kata dunia bisnis itu kejam dan kayaknya memang harus kejam. Tetapi aku tidak mau ikut-ikutan kejam. Aku tidak mau sama dengan dunia. Uang bukanlah segalanya.”

“Aku tidak tahu harus membantu kamu bagaimana Wi. Memang kalau urusan hak atas kekayaan intelektual kayak begitu aku bukan ahlinya. Keahlianku hanyalah mengajar mahasiswa. Aku hanya bisa memberikan saran. Berdoalah minta petunjuk pada Tuhan dan ikutilah kata hatimu.”

“Tidak apa-apa. Thanks ya Lin. Sekarang aku lega karena telah menceritakan semua pergumulanku ini padamu.”
“Sama-sama Non…Kalau kamu bisa tidur nyenyak setiap malamnya aku juga yang senang. Aku jadi tidak terganggu dengan suara berisik di dapur setiap tengah malam hehehe…”

“Iiihh… dasar tukang tidur. Hehehe. Eh Lin, kita berdoa bareng ya. Bantu aku dalam doa.”
Keduanya pun melipatkan tangan, memejamkan mata dan tertunduk merendahkan diri di hadapan sang pemegang kehidupan. Hati, jiwa dan pikiran keduanya diletakkan di hadapan sang Maha Cinta. Ada ketenangan, kedamaian dan sukacita yang mengalir dalam hati keduanya.

***

“ Lin…Linda acara empat mata-nya sudah mulai.” Dwi berteriak memanggil Linda. Acara empat mata dengan Tukul Arwana sebagai hostnya memang kegemaran mereka berdua. Setiap malam tidak pernah terlewatkan. Dengan bersantai di sofa dan ditemani makanan ringan Dwi menyaksikan acara favoritnya. Tak lama Linda pun menyusul duduk di sofa dan menyambar makanan ringan. Keduanya mulai tergelak oleh kalimat-kalimat lucu yang diucapkan si Host Tukul Arwana.

“Oh iya Wi. Bagaimana masalahmu dengan Ibu Vina. Keputusan apa yang kamu ambil?”
“Sudah selesai. Akhir bulan ini ada kemungkinan aku pinjam uangmu. Hehehe.”

Linda membelalakkan mata dan tersenyum jahil “Hhmm, enak aja. Hehehe. Tapi okelah asal jangan bikin keributan lagi kalau tengah malam ya. Eh, aku bangga dengan keputusan yang kamu ambil loh, Wi. ” Linda mengedipkan sebelah matanya.

“Hehehe. Thanks. Ya, satu hal yang sekarang aku yakini Lin. Carilah dulu kerajaan Allah maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Amin.” Keduanya pun tergelak.

Ditulis Oleh Rellin Ayudya

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Sunday, March 25, 2012
Adakah Langit Seindah Ini Esok?

Adakah Langit Seindah Ini Esok?



Aku memandang langit. Rasa syukur dan damai tak terucapkan muncul ketika aku bisa merasakan panas matahari menghangatkan tubuhku... atau saat melihat langit malam dengan bulan, bintang-bintang, dan awannya yang menggantung indah di tengah langit biru...

Sering aku menyesal, kalau aku sedang malas bangun pagi saat liburan. Tak bisa rasakan cahaya matahari yang begiiiitu indah. Aah...kalau saja aku bangun lebih pagi.
Kalau tak libur, sama sekali aku tak dapat menikmati cahanya yang lembut itu.. Aku hanya bisa memandang langit dan awannya yang mengapung dengan indah, dikombinasikan dengan cahaya matahari pagi, dari atas motorku..ah...indah sekali. Siapakah yang membuat ini semua?
Kalau sore hari tiba... biasanya aku tak bisa merasakan indahnya matahari. Aku sibuk dengan teman-temanku di kampus. Aku sibuk mencari cara untuk mencuri pandang orang yang kusuka. Aku sibuk dengan tugas dan kegiatan kampus yang semuanya di lakukan di dalam gedung!

Ditulis Oleh Kimmy Kezia

Tapi aku ingin. Ingiiiin sekali menghabiskan waktuku dengan menikmati mentari sore hingga ia terbenam kembali.

Langit malam, langit malam, dimanakah aku bisa melihat langit malam yang indah? Di rumahku, langit malamnya indaaah sekali..
***
“Panas!”
“Aduh, kulit gw nanti gosong!”
Ucapan-ucapan seperti itu kadang membuatku gatal! Huh, tak bersyukurkah mereka? Lihat! Matahari itu bersinar untuk siapa?
Uh...tak bersyukurkah?

Sementara langit malam? Ah..aku ragu ada banyak orang yang masih mau menikmatinya. Orang-orang sibuk hangout maupun mengurung diri di kamar mereka, sibuk dengan alat elektronik di dalam rumah mereka.

Aku..aku sangat senang jika punya kesempatan melihat langit yang seindah itu...
Aku selalu bertanya dalam hati, ‘besok masih adakah langit seindah ini?’
Bagiku...langit dan segala penghiasnya adalah harta yang begiiitu berharga. Tak ternilai. Karena itu, jika langit hari ini abu-abu, aku cemas. Aku cemas harta itu telah dirampas. Dirampas oleh awan abu-abu. Oleh karbondioksida. Oleh lampu-lampu pencakar langit. Oleh billboard ratusan bahkan ribuan watt dipinggir jalan. Oleh efek rumah kaca. Oleh polusi-polusi yang tak terkira lagi jumlahnya. Direnggut oleh keegoisan manusia. Oleh ambisi-ambisi manusia...

 Oh, bisakah ku lihat kembali langit yang indah  besok?

Tuhan, Kaulah pembuat langit itu. Maukah Kau tunjukkan lagi pada mereka langit yang begitu indah hingga mereka menyadarinya? Hingga mereka mengucap syukur karenanya? Hingga mereka memandang-Mu dengan takjub dan penuh rasa syukur?

Ditulis Oleh Kimmy Kezia

Kalo kamu suka tulisan ini, bantu kita menyebarkannya dengan mengklik share/bagi yah! Ditunggu juga cerpen dan puisi kamu di cerpuni@gmail.com

GBU :)
Copyright © 2013 Kristus All Right Reserved